The Nurdayat Foundation


Rara Mendut Tulisan Rama Mangun (1): Saji Ulang Seorang Empu
Minggu, 31 Januari 2010, 9:23 pm
Filed under: Sejarah | Tag: , ,

Karya ini terbit pertama kali tahun 1982 sebagai cerita bersambung di Harian Kompas, dan bahkan pada tahun 1983 sempat difilmkan. Saat diterbitkan dalam bentuk buku, maka trilogi ini pertama dulu terbit menjadi 3 buku yaitu; Rara Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri. Di tahun 2008 Penerbit Gramedia merilisnya menjadi satu buku setebal 800-an halaman.

Ada beberapa novel/roman sejarah ditulis orang; namun yang menceritakan masa-masa Mataram pasca Sultan Agung rasanya memang tidak banyak ditemukan. Romo Mangun bukan hanya sekedar mengisi ruang kosong itu; namun merangkai cerita rakyat ini menjadi berlanjut, dengan meramunya dengan fakta-fakta dan tafsir sejarah dengan penggambaran latar budaya yang cukup lengkap. Orang Jawa yang lahir dan tumbuh dalam lingkungan budaya ini serta berminat terhadap peninggalan budaya dan perkembangannya di masa lalu akan mendapatkan perluasan wawasan keseluruhannya serta pemahaman terhadap runtut konteks waktu-nya. Sedangkan, orang bukan Jawa akan memperoleh pengetahuan tentang beberapa tinggalan kekayaan budaya Jawa, seperti: tembang-tembang Macapat, ilmu titen dalam primbon, katuranggan (terutama kuda tapi mungkin juga wanita), macam-macam folklore Jawa, dan seterusnya. Dalam merangkai cerita, Romo Mangun mengutip filosofi, pepatah dan syair-syair dalam tembang Jawa Macapat, tidak lupa ditambah dengan humor-humor segar slengekan atau plesetan tembung unen-unen.

Beberapa resensi/review tentang buku ini telah ditulis orang di situs-buku ataupun blog; maka tentu tidak banyak bermanfaat bila saya sekedar menceritakan kembali isi buku dan alur ceritanya. Bagi orang Jawa apalagi Yogyakarta (lokasi di mana sebagian besar peristiwa dalam cerita ini berpusat terjadi); cerita Rara Mendut adalah cerita rakyat yang telah diwariskan turun temurun dari mulut ke mulut melewati beberapa generasi. Bukan pula mengulas dengan membandingkannya dengan cerita yang selama ini beredar di masyarakat; namun marilah mengupas karya ini untuk memahami kondisi Mataram dan perkembangan peradaban masyarakatnya yang sesungguhnya kala itu. Tulisan ini akan saya bagi menjadi beberapa kali posting.

Seri No. ISBN: 978-979-22-3583-8

Penulis :Y.B. Mangunwijaya

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU) 20108005|23

Tahun Terbit: 2008

Jumlah Halaman: 800 hlm.

Berat Buku: 800 gram (utk soft-cover)

Dimensi (L x P): 15 cm X 23 cm

Harga: antara Rp 75 rb (edisi softcover yg ter-diskon) hingga Rp 130 rb (hardcover di toko buku mahal), hingga Januari 2010 ini.

Bagaimana Saya Mengenal Cerita Rara Mendut di Masa Kecil

Saya pribadi sendiri lupa tepatnya di usia berapa dan dari siapa atau lewat media apa pertama kali mendengar atau mengetahui cerita Rara Mendut. Beberapa cerita pengantar tidur yang disampaikan Ibuku saat aku kanak-kanak kepadaku a.l. adalah: Timun Emas, Brambang Abang Bawang Putih, Jaka Kendhil, Cindhelaras. Cerita lain lagi yang Simbah Putri (=Nenek) lebih menguasainya adalah: Asal Terjadinya Rawa Pening, terkait legenda tombak pusaka Kiai Baru Klinthing (yang ini bisa sampai ke cerita Ki Ageng Mangir). Saya lupa apakah cerita Rara Mendut adalah cerita yang secara khusus pernah diceritakan lengkap oleh Ibu atau Nenek kepada saya semasa saya masih kanak-kanak. Saya kira cerita Rara Mendut memang bukan cerita yang paling pas untuk anak-anak. Baru kemudian setelah menjelang remaja saya mulai menyadari bahwa cerita Rara Mendut – Pranacitra itu ada yang menyejajarkannya dengan kisah Romeo – Juliet atau Sam Pek – Eng Tay. Sebagai anak Jogja, kemudian saya beberapa kali menonton cerita Rara Mendut ini lewat lakon Kethoprak di TVRI Yogyakarta (tentu ada beberapa pertunjukan kethoprak yang mengambil lakon ini dan mementaskannya di panggung di desa-desa, tapi kebetulan saya bukan termasuk yang beruntung sempat menyaksikannya); lalu juga dalam cerita-cerita bersambung dalam majalah berbahasa Jawa; Djaka Lodang dan Mekarsari (dulu).

Rara Mendut : Bagian Pertama dari Trilogi Romo Mangun

Sampul: Don’t judge a book by its cover. Kalimat ini biasa dilontarkan Tukul Arwana saat membawakan acara di televisi, dalam arti; jangan menilai orang dari penampilan fisiknya. Tapi di sini saya mau menilai buku dengan pertama kali menilai sampulnya. Sampul adalah citra pertama yang kesannya ditangkap oleh (calon) pembaca. Saya kira sosok perempuan yang dijadikan sampul ini kurang pas (bukan hanya kurang cantik). Sepertinya kok wajahnya tidak mengesankan seorang perempuan Srikandi yang cerdas, merdeka, periang, suka kebebasan; namun justru seperti bodoh, pemalu, pendiam, suka menyendiri tapi ndableg. He he he. Persepsi saya tentu subjektif, tapi bila Anda membaca buku ini dan mencermati gambar sosok perempuan di sampul itu: bertanyalah: ‘Seperti inikah gambaran Rara Mendut?” Mungkin justru lebih tepat bila modelnya seperti Meriam Bellina saat muda, aktris yang dulu memerankannya di film Rara Mendut yang memang pernah dibuat itu. . .. Sedangkan itu latar gambarnya kalau tak salah lukisan Raden Saleh bertema ngrapyak kidang (berburu kijang). Saya kira cukup pas untuk gambaran Mataram abad ke-17, dan karena juga memang tidak mudah dibedakan apakah itu gambar orang berburu atau mau berperang.

Konteks Kurun Masa / Setting Waktu Cerita (= antara th. 1630 – 1677 M): Dari trilogi Rara Mendut – Genduk Duku – Lusi Lindri ini; saya menilai bahwa Romo Mangun sebagai penulis tentu memiliki kiat-kiat khusus tersendiri untuk bertutur di masing-masing bagian, penokohan dan kurun waktu itu. Latar kurun waktu trilogi ini adalah sejak dari tahun 1630-1640-an M (pasca penyerangan kedua Mataram ke Batavia) hingga ‘bedhah’-nya Kraton Pleret oleh pasukan Trunajaya (antara Mei-Juni 1677 M). Moment ‘bedhah’-nya Kraton Pleret dapat dikatakan juga sebagai titi saat runtuhnya Mataram sebagai kerajaan mandiri yang berdaulat di Jawa atau Nusantara. Untuk menuturkan masa 40-an tahun itu Romo Mangun menaruh karakter tokoh Genduk Duku sebagai dayang yang berperan seperti sahabat sekaligus adik tersayang bagi Rara Mendut. Genduk Duku adalah seorang anak perempuan abdi dalem puri (Kadipaten?) Pati bahkan sebelum Mendut masuk sebagai calon selir Adipati Pragola II ke sana. Setelah mendampingi Rara Mendut mengarungi gejolak lelakon-nya, lalu Genduk Duku menjadi saksi sejarah perubahan di Mataram pasca wafatnya Sultan Agung dan digantikan oleh naiknya Amangkurat (I) (tahun 1646 M). Sepeninggal Rara Mendut setelah beberapa kali berpindah mengikuti hajat hidup, Genduk Duku hidup di Mataram dalam perlindungan satu puri bangsawan ke puri bangsawan berikutnya. Lusi Lindri adalah putri Genduk Duku. Saat masuk usia gadis dewasa, Lusi dipilih oleh Ratu Ibu (=ibusuri = ibunda Amangkurat I) untuk menjadi anggota pasukan Trinisat Kenya (prajurit wanita pengawal raja). Maka begitulah karakter tokoh-tokoh ini masuk dalam alur tutur. Di Buku Ketiga, Lusi Lindri (mulai tahun 1647 M); penulis banyak menuliskan angka tahun di bawah nomer bab, tentu karena ada catatan-catatan sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan atas penentuan waktu itu. Namun, dalam Buku Pertama (Rara Mendut) dan Buku Kedua (Genduk Duku) tidak ada nomer bab yang disertai angka tahun di bawahnya.

Pakem Cerita, Ekplorasi Karakter Tokoh dan Dramatisasi: Cerita Rara Mendut adalah cerita yang sudah melegenda, dengan tokoh-tokoh beserta karakter dan alur yang sudah pakem. Berbeda dengan tokoh Genduk Duku dan Lusi Lindri yang kiranya adalah rekaan Romo Mangun; Rara Mendut adalah tokoh semi-legenda, namun juga peraga dan pelaku sejarah, yang kiranya para ahli sejarah pun akan mengakui bahwa ia memang tokoh yang benar-benar pernah ada dan benar-benar mengalami lelakon itu pada jaman itu. Minimal, Rara Mendut adalah memang sudah seorang tokoh yang sangat dikenal dalam legenda cerita rakyat. Maka tak banyak yang dapat di-eksplorasi oleh penulis dan ‘diputar-putarkannya’ mengenai lelakon Rara Mendut untuk menceritakan Mataram kala itu. Yang kita umum tahu adalah bahwa Rara Mendut adalah putri boyongan dari wilayah Pati / pantai utara Jawa yang oleh Sultan Agung diperkenankan untuk diserahkan kepada Tumenggung Wiraguna. Tapi itu terjadi pada tahun-tahun berapakah? Adakah catatan sejarah yang menyatakan bahwa pasukan Sultan Agung di bawah pimpinan Tumenggung Wiraguna menyerbu Pati yang saat itu di bawah Adipati Pragola II pada antara tahun 1630-1646? Dari beberapa sumber saya tidak menemukan tahun yang pasti akan terjadinya ‘penyerbuan’ ke Pati itu. Apakah sebelum atau sesudah penyerangan pasukan Sultan Agung ke Batavia? Apakah Rara Mendut diambil dari Pati sebagai rampasan setelah terjadinya perang besar, ataukah ‘dicomot’ di luar waktu perang? Romo Mangun menceritakan Rara Mendut diambil dari pantai oleh prajurit-prajurit utusan Adipati Pragola II untuk dibawa ke purinya, sementara sesungguhnya Pati sedang memasuki masa genting akan mendapatkan ‘hukuman’ dari Mataram: ..”..Memang bulan-bulan akhir ini di seluruh daerah Pati bertiup berita macam-macam. Kata orang, Adipati Pragola terkena marah Susuhunan Mataram. Ada yang mengatakan beliau memberontak, mengulangi permusuhan ayahnya melawan Panembahan Senapati nun dulu, karena rakyatnya dihisap berasnya demi persiapan serangan Betawi oleh Susuhunan Hanyakrakusuma. Sang Adipati lalu membangkang tak mau menghadap istana di Karta..”.. (hal. 7) ..”..Sri Susuhunan Ingalaga Mataram pribadilah yang memimpin pertempuran dahsyat tentara ratusan ribu melawan ratusan ribu di perbatasan Kadipaten Pati. Dan oleh tombak pusaka Mataram Kiai Baru dari tangan si abdi Naya-Darma, Sang Adipati Pragola tewas. Lalu datanglah, atas perintah raja Mataram, Tumenggung Wiraguna Sang Alap-alap menggempur benteng-benteng Pati. ..”.. (hal.24) ..Dan dibawalah Rara Mendut ke Mataram sebagai putri boyongan.

Sosok Pranacitra tidak di-eksplorasi cukup dalam oleh Romo Mangun dalam tulisannya ini; karena lakon utama novel ini memang Rara Mendut, Pranacitra hanyalah pendamping. Bahkan bisa dibilang bahwa lakon yang sedang ditulis  Romo Mangun adalah lakon Rara Mendut vs Wiraguna, bukannya lakon Rara Mendut & Pranacitra. Pranacitra diceritakan sebagai anak Nyai Singabarong, saudagar wanita dari pelabuhan Pekalongan. Tidak secara gamblang terang-terangan, ada disiratkan oleh Romo Mangun sebagai penulis; bahwa sebelum di Mataram itu, saat masih sama-sama di pantai utara Rara Mendut dan Pranacitra pernah bertemu. Tentang sosok Pranacitra yang kurang menonjol; Bukankah kita juga mengakui bahwa memang sulit untuk menonjolkan peran Pranacitra dalam setting konteks seperti itu? Bahkan lewat media apapun?

Kemelut psikologis Wiraguna-lah yang dapat dieksplorasi maksimal oleh Romo Mangun. Wiraguna tampil utuh sebagai sosok panglima besar Mataram yang merindukan kesempurnaan pemilikan lambang kejayaan dan kebanggaan Mataram di usia menjelang senjanya. Maka, Wiraguna pun tampil tidak sangat-sangat antagonis; karena dialah ‘maskot’ lambang patriarkat Mataram masa itu, pola pikir yang mungkin dianggap umum di kalangan pembesar Mataram kala itu, dan Wiraguna hanyalah tokoh utama-nya.

Istri-istri Wiraguna yang lain juga mengambil peran penting dalam lakon yang dibawakan Romo Mangun ini, terutama Nyai Ajeng (istri perdana Wiraguna) dan Arumardi (putri begawan yang arif-bijak). Kegigihan Mendut untuk mempertahankan kebebasannya akhirnya seakan mengajak para istri bangsawan itu ber-refleksi ulang akan posisinya sebagai perempuan, di samping juga kehendak untuk mempertahankan martabat suami (bagi Nyai Ajeng). …

Saya kira ini dulu resensi ini. Apalah artinya pandangan seorang awam untuk menilai karya besar seorang ’empu’. Tidak lain adalah juga kesempatan bagi saya untuk belajar, termasuk mengangankan mungkin suatu saat saya dapat menulis sebuah karya, dengan mempelajari karya-karya para empu.

Bagi Anda yang berminat dengan kajian sejarah Jawa pasca Sultan Agung,  atau bahkan mengkaji tentang sosok Amangkurat I; Jangan lewatkan untuk membeli buku ini, karena buku ini bisa menjadi satu referensi wajib untuk itu.

(bersambung)


12 Komentar so far
Tinggalkan komentar

bagus mas..
tapi bersambungnya jangan lama2…he3..
di tunggu sesion 2-nya… ok?

Komentar oleh purwanti

sebuah ulasan menarik dan lengkap, setidaknya ada wacana dan gambaran yang lebih dari apa yang selama ini dipahami tentang Roro Mendut… siip kang Nur.. makasih, ditunggu sambungannya

Komentar oleh eka sulistiyana

makasih Kang nur … OK buku ini jd list yg akan dibeli🙂 smoga masih ada stok …

Komentar oleh hakim

dah dalam satu buku ya bos
kemaren dah beli dulu pas sms baca belum bisa beli buku sekarang dah punya bos

Komentar oleh suwung

mengulas kisah legendaris ini dari sisi sejarah menjadikan review ini lebih menarik. ditunggu postingan selanjutnya, Kang.

Komentar oleh kartika

Wah… Roro Mendut ya. Saya membacanya dulu sekali,waktu masih berupa cerber di harian KOMPAS. Lupa-lupa ingat (Kuburan.com)…
Memang ceritanya menarik, tapi jangan jadi referensi sejarah deh, soalnya meski menggunakan banyak idiom Jawa masa lalu, pandangan penulis buku tentang sejarah Jawa-nya itu loh yang perlu dikaji dan dibandingkan dengan referensi sejarah lainnya. Saya melihatnya seperti mewakili pandangan wanita masa kini, bukan pandangan wanita masa lalu. Ohhh, tapi… tetap saja Roro Mendut adalah buku yang menarik.
Salam kang Nur.

Komentar oleh wardoyo

Kang Nur …

Wah … dalam sejarah jawa ternyata banyak sosok perempuan hebat ya … sekarang saya memang sedang berminat dengan sejarah jaman kerajaan karena kesehariannya bergelut dengan anak SD Kelas 5 … kalo banyak referensi .. bisa membuat anak-anak seneng belajar sejarah, yang sekarang ini minat mereka lemah … makasi kang Nur …

Komentar oleh Nawal

Trilogi Rara Mendut karya Empu Mangunwijaya sangat menginspirasi hidup saya tentang sastra Indonesia yang hebat…saya bukan ahli ngomong sastra tapi senang membaca
Satu kerinduan bila serial cerita Korea begitu bisa menarik hati pemirsa TV di sini sampai simbah Kakung yang anti sinetronpun setia menunggu jam siarnya. Alangkah indahnya bila novel2 dari sastrawan besar bangsa ini bisa diangkat menjadi film yang bagus tanpa harus dibumbui klenik & animasi monster yang menyesatkan.
Banyak karya sastra bangsa yang mendunia

Komentar oleh tomy

aku wes mboco bukune , apik apik…!
romo mangun memang pria jawa sejati
huehehehhe….

Komentar oleh pacarkecilku

saya baca buku ini kelas 5 sd krn mbah punya triloginya lengkap. hehehehe. dan dah baca semuanya. romo mangun emang keren kalu cerita. jd berasa liat sendiri

Komentar oleh Sesy

It’s remarkable to pay a visit this web site and reading the views of all friends about this piece of writing, while I am also zealous of getting know-how.

Komentar oleh vozradio.net

Mas………apa ada Pranacitra Rara Mendut yang versi macapatan, utk ayahnda (86 th) yg sejak thn 1992 mencari buku macapatan ini, dulu bukunya penerbit Bumijo

Komentar oleh anwar




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: