The Nurdayat Foundation


Dari Demak, Pajang; Hingga Mataram Menjelang Amangkurat
Jumat, 9 Juli 2010, 6:52 pm
Filed under: Sejarah

Umpak (landasan saka/tiang) Kraton KertaDemak
Demak pada abad ke-16 M adalah kota pelabuhan, dekat sekali dengan pantai. Pelabuhan Demak di abad ke-16 adalah pelabuhan laut yg bagus. Hanya, timbunan lumpur yg terus-menerus pada abad-abad berikutnya; telah menjadikan Demak kini beberapa kilometer jauhnya dari pantai.

Sesungguhnya pada saat Demak kuat pun sebenarnya tidak benar-benar melakukan kekuasaan dengan pemusatan. Maka, setelah surutnya pengaruh Demak sepeninggal ‘Sultan’ Trenggana, penguasa-penguasa daerah memang memiliki otonomi-otonomi yg besar di wilayahnya masing-masing. (Orang-orang yang ‘dituakan’ di daerah-daerah saat itu sering mendapat sebutan ‘Ki Ageng’)
Bukan mustahil ‘Kerajaan’ Demak adalah tidak lebih daripada suatu federasi negara-negara yang sifatnya longgar. Pernahkah tercapai suatu kekuasaan administratif yang terpusat?

Jepara, adalah juga pelabuhan lain yang memainkan peranan penting pada abad 16 dan 17 M itu. Di timur, Gresik tumbuh sejak abad 15 M dan berkembang menjadi pelabuhan perdagangan ‘internasional’ yg besar. Surabaya juga telah menjadi pelabuhan perdagangan yg besar mulai abad 16 M, tetapi benar-benar muncul mengemuka menjadi ‘kekuatan pantai’ kota pelabuhan pada awal abad ke-17 M. Di barat, Cirebon dan Banten adalah negara-negara pantai yg lebih dulu muncul dan bertahan, semenjak jaman Sunan Gunung Jati pada paroh kedua abad ke-16 M.

Ke Pajang lalu Mataram
Pada paroh kedua abad ke-16 M (th 1550-an dst) itu pula muncullah dua kekuatan baru di pedalaman Jawa Tengah; yaitu Pajang, dan lalu Mataram (lokasi-nya di sekitar Surakarta dan Yogyakarta sekarang). Tampak ada kemungkinan bahwa memang baru pada tahun-tahun terakhir abad ke-16 M itulah sejumlah besar penduduk mulai kembali ke wilayah seputar Gunung Merapi yang subur mengolah lahan-lahan persawahan. Wilayah itu pulalah yang selama lebih dari enam abad sebelumnya telah menopang kerajaan yang membangun Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan candi-candi besar lainnya di Jawa Tengah.

Pada abad ke-15 M, di wilayah yg selanjutnya menjadi pusat pemerintahan Pajang oleh Adiwijaya (Jaka Tingkir) itu tinggallah sebuah jalur keturunan Pengging. Jaka Tingkir adalah keturunan-nya yg mampu merintis jalur hingga akhirnya menjadi menantu Trenggana, menjadi raja-bawahan Demak di Pajang (lagi, meneruskan kepemimpinan leluhurnya di situ). Bahkan pada tahun 1582 M ia memperoleh pengakuan dari Sunan di Giri dg sebutan Sultan.

Selanjutnya, Ki Ageng Pemanahan melanjutkan pembangunan di Mataram. Mataram awal abad ke-17 M tumbuh menjadi pusat pemerintahan kerajaan yang mendasarkan kekuatannya kepada pengolahan hasil pertanian yg melimpah, padi di sawah. Tanah yg subur sisa letusan Gunung Merapi berabad-abad, air yg terjamin mengalir dari hulu-hulu mata-airnya; mengundang orang untuk kembali berdatangan.

Membuka dan Memperluas Mataram Baru
Pulau Jawa, pulau dengan sederetan gunung berapi yg berjajar memanjang membentuk tulang punggung dari timur ke barat. Ada kawasan-kawasan pedalaman yang subur namun terpisah-pisah oleh gunung-gunung. Betapa daerah-daerah padi di Jawa ini adalah salah satu kawasan tersubur di dunia.

Dan di satu pusat kesuburan itulah Ki Ageng Pemanahan membuka wilayah, di kawasan selatan Gunung Merapi yg dulu disebut dengan kawasan Alas Mentaok (Hutan Mentaok).

Ki Ageng Pemanahan beserta putranya Panembahan Senapati membangun ibukota-nya di Kotagede.

Luas kekuasaan Mataram telah dirintis oleh Panembahan Senapati, kakek Sultan Agung. Panembahan Senapati meninggal +- tahun 1601 M, dimakamkan di pemakaman kompleks istana Kotagede.

Baru pada masa pemerintahan ayahanda Sultan Agung, yaitu Panembahan Seda (ing) Krapyak (memerintah 1601-1613) datanglah pelaut-pelaut Barat; Portugis, Belanda, Inggris. Kedatangan bangsa asing itu tak pelak akhirnya ‘mengganggu’ perkembangan kerajaan Jawa yg perkasa dari wangsa keturunan Ki Ageng Pemanahan ini.

Susuhunan Agung (=Raden Mas Rangsang=Sultan Agung) mula-mula bergelar Pangeran, Panembahan. Baru tahun 1624 M setelah berhasil menaklukkan Madura ia bergelar Susuhunan; dan baru pada tahun 1641 sepulangnya duta utusan yang ia kirim ke Mekah ia mendapat gelar Sultan. Panembahan Agung, Susuhunan Agung lalu Sultan Agung; begitulah perkembangan penyebutan gelar itu sesungguhnya dilaluinya.

Panembahan Agung, cucu buyut Ki Ageng Pemanahan ini mampu memimpin menghimpun kekuatan pasukan darat yang besar pada saat diperlukan untuk melakukan penaklukan-penaklukan. Ia lalu memindahkan ibukota kerajaannya ke Kerta (istana Kerta dibangun pd th 1614-1622), beberapa kilometer saja arah selatan – barat laut Kotagede.

Menjelang Amangkurat Lahir
Kraton Kerta dibangun Panembahan Agung pada tahun 1614-1622, tentu sebagai pernyataan dari legitimasi kekuasaannya. Selayaknya penguasa menghendaki kepatuhan dari bawahan, lawan yang menentang akan ditindas, bila perlu dengan kejam. Itu perlu ditunjukkan, agar tak banyak perlawanan mencoba-coba. Dan.. Perlu pula ia mempertunjukkan kemegahan, kekayaan; sehingga orang-orang kuat lainnya pun menjadi kagum tertarik untuk setia kepadanya.

Amangkurat (I) lahir pada +- th. 1620 M dari lingkungan Keraton Kerta.

Secara resmi Raden Mas Jibus (Amangkurat I) ini adalah putra Susuhunan Agung (=Sultan Agung). Begitulah gelar yang dibiasakan kepada Panembahan Agung, setelah pada tahun 1624 Madura pun tunduk kepadanya. Ibu si Jibus ini adalah Kanjeng Ratu Wetan, yang dia adalah putri Tumenggung Upasanta, Bupati Batang, yang masih keturunan Ki Juru Mertani.

Amangkurat I (Raden Mas Jibus) akan merasakan di masa kanak-kanak dan remaja-nya sebagai anak yang ayahanda-nya sibuk memikirkan mengurusi perang-perang penaklukan.

Sebelum Amangkurat I lahir, Panembahan Agung telah mencoba menyerang wilayah-wilayah selatan Surabaya pada tahun 1614. Pasukan-nya menduduki Wirasaba (kini Mojoagung) yg merupakan gerbang sungai Brantas pd th 1615. Persekutuan Surabaya-Tuban melawan Mataram terbangun lagi setelah itu; mereka berniat menyerang Mataram lewat Pajang; tetapi pada Januari 1616 Mataram bisa menumpasnya.

Melajulah Panembahan Agung menaklukkan Lasem pd th 1616, Pasuruan th 1617; menghancurkan pemberontakan Pajang pd th 1617 itu juga, menaklukkan Tuban pd th 1619.

Pada saat tahun kelahiran Amangkurat, pasukan Mataram mulai secara periodik mengepung Surabaya. Th 1622 menaklukkan Sukadana di Kalimantan hingga terputuslah suplai-nya ke Surabaya. Th 1624 menaklukkan Madura. Surabaya takluk pd th 1625 karena kelaparan.

Catatan :
Paraban Amangkurat semasa remaja dan pemuda adalah Jibus dan Rangkah
Pada masa masih remaja-nya, Amangkurat I dipanggil dengan paraban Jibus. Mengapakah? Bukankah itu tak terkesan sebagai paraban (nama panggilan) yang bagus? Pantaskah paraban itu digandeng dengan sebutan Raden Mas?
“Ya mung siJi kuwi, baGUS beSUS, ning kompal-kampul kaya gaBUS. Pantes parabane sang Jibus.” (Ya cuma satu itu, tampan suka berpakaian rapi, tapi terapung-apung mirip gabus. Pantas julukannya sang Jibus.)
Ternyata itu masih berlanjut pula. Di saat ia menjadi pemuda yang cepat dewasa, ia dapat leluasa berulah, maka dipanggillah ia dengan nama paraban Rangkah, Raden Mas Rangkah. Itu juga bukan paraban yang bagus. Rangkah artinya pagar. Pagar ayu? Bagaimananakah nanti Amangkurat I bermasalah dengan itu?
—o0o—

Bahan Pustaka :

1. M.C. Ricklefs (Monash University) copyright 1981, Sejarah Indonesia Modern, cetakan ke-9 = November 2007 terbitan Gadjah Mada University Press.
2. Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto, dkk. Sejarah Nasional Indonesia III. PN Balai Pustaka, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta 1984.
3. Y.B. Mangunwijaya, Rara Mendut, novel sejarah. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama; Jakarta 2008.


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Waw gituyah,
Sudah banyak lupa dengan sejarah masa lalu…
Maafkan…

Komentar oleh Sriyono Semarang

Faith makes all things possible.
Hope makes all things work.
Love makes all things beautiful.
May you have all of the three.
Happy Iedul Fitri.

Komentar oleh cenya95




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: