The Nurdayat Foundation


Potret Perjalanan
Selasa, 28 September 2010, 7:14 pm
Filed under: Sejarah

sebuah cerpen berlatar sejarah karya Rama Dira J.

Batavia 1857

Hawa panas mengambang di bumi Batavia. Sebab itu, para penghuninya didera kemalasan yang tak tanggung-tanggung. Ada seorang pemuda yang tak ambil peduli dengan keadaan itu, demi temu janjinya dengan seorang gadis. Ia rela menunggu dalam siksaan panas, bersembunyi di sebalik belukar mawar, tak jauh dari kediaman keluarga Olisleager. Bangunan bertingkat itu dibangun begitu indahnya oleh Tuan Victor Olisleager, seorang lelaki Jerman. Ia terkenal sebagai pengusaha kaya, berkat keuntungan yang diperolehnya dari toko arloji Olisleager & Co miliknya. Tokonya sudah menjadi langganan tetap para pejabat Kompeni, juga orang-orang Eropa yang kaya.

Dari kejauhan, Syafei bisa melihat Tuan Olisleager tengah duduk bermalas-malasan di beranda bersama istrinya, Nyonya Vanca Olisleager yang tengah membaca majalah mode dari Paris.

Syafei makin lama menunggu, tak juga muncul gadis yang dinanti. Ini membuatnya mulai gelisah. Apalagi, setelan jas yang diambilnya dari jemuran milik kontrolir Van Maurik tadi malam itu semakin menyiksanya. Selain berbahan tebal, setelan itu kebesaran. Meski begitu, Syafei tetap memakainya demi menampilkan diri dalam keadaan terbaik. Ini ia lakukan bukan tanpa alasan. Ia dan Sarah telah merencanakan untuk berfoto bersama di studio foto pertama di Batavia, studio Woodbury & Page yang ada di kawasan Harmonie.

Sepasang kekasih ini telah melewati hari-hari dalam hubungan yang penuh dengan petualangan. Karena hubungan mereka adalah hubungan terlarang, mereka terpaksa menjalankan aksi-aksi pertemuan penuh sogokan dan penyamaran.

Semuanya bermula dari ketertarikan gadis Sarah pada reputasi baik Syafei, seorang pemuda rampok yang dicintai dan mencintai warga miskin Batavia. Kenyataan itu justru membuatnya menaruh simpati pada Syafei, dan tidak kasihan sedikitpun pada Ayahnya yang menjadi korban perampokan besar-besaran Syafei pada suatu malam. Fakta bahwa ayahnya adalah sosok yang sangat kikir, membuatnya meyakini perampokan yang menimpa ayahnya itu adalah teguran yang pantas dari Tuhan.

Mulailah Sarah mencari tahu tentang Syafei melalui seorang babu. Gayung bersambut, Syafei tentu tak meninggalkan peluang emas begitu saja setelah kedatangan babu itu. Mula-mula, Syafei-lah yang mengatur pertemuan-pertemuan penuh sogokan dan penuh penyamaran antara mereka berdua. Sampai pada suatu titik, kesepakatan untuk menjalin cinta sungguhan terjadi dalam sebuah pertemuan beberapa waktu yang lalu.

Sementara itu, Tuan Olisleager semakin membenci Syafei sebagaimana Pemerintah Kolonial yang juga menyimpan dendam keparat kepada lelaki pribumi yang suka merampok tuan-tuan tanah dan orang Belanda dan Eropa kaya di Batavia sebagai sasarannya itu.

Kali ini, Syafei dan Sarah telah merencanakan sebuah pertemuan dalam waktu yang lebih lama. Untuk itu, gadis Sarah akan meminta ijin pada ayahnya agar diperbolehkan menonton pertunjukan karnaval perahu di Kali Ciliwung dalam pesta perayaan pehcun.

Syafei masih setia menunggu. Tak berapa lama, kekhawatiran Syafei lenyap juga setelah dari pintu utama bangunan serupa benteng itu, gadis Sarah muncul dengan menuntun sepeda Rover-nya.

Betapa manisnya gadis Sarah yang mengenakan baju terusan serba putih dengan pita ikatan berbentuk kupu-kupu di pinggang belakang itu. Dua babu perempuan yang setia menemani turut pula keluar dari dalam rumah. Setelah berhasil mendapatkan ijin dari sang ayah, Sarah mulai menuntun sepedanya keluar diikuti dua orang babu yang maha setia itu.

Setibanya Sarah di dekat belukar mawar dan sepeninggalan dua orang babu yang telah mereka sogok, Syafei mengambil alih stang sepeda. Mulanya Sarah hampir tak mengenali Syafei karena ia mengenakan misai palsu dalam ukuran besar yang terpasang antara hidung dan bibir atasnya. Ia sempat tertawa melihat tampilan kekasihnya itu.

Sarah langsung pada boncengan dalam posisi menyamping. Syafei mulai mengayuh sepeda itu perlahan, mengarahkannya ke studio foto Woodbury & Page. Rencananya, potret yang nanti mereka dapatkan akan menjadi potret pertama sekaligus sebagai potret perpisahan sebab sebulan ke depan, Sarah akan berangkat ke Amsterdam untuk belajar ilmu hukum.

Setiba mereka di studio foto Woodbury & Page, Page bersama Woodbury, dua lelaki asal Inggris itu langsung mengarahkan posisi mereka berdua. Page menyiapkan latar foto yang berlukiskan pohon palem sambil mengatur posisi terbaik pemuda Syafei dan gadis Sarah. Sementara itu, Woodbury telah bersiap dalam tirai kamera dan setelah mendapatkan aba-aba siap dari Page ia langsung menekan tombol potret dan blam! Pemuda Syafei yang berdiri di belakang gadis Sarah yang duduk di sebuah bangku batu buatan telah tersimpan dalam potret perpisahan itu. Hasilnya, bisa mereka ambil seminggu kemudian.

Usai berfoto, mereka bersepeda ke tepi kali. Kini keduanya tampak merasakan kegembiraan yang sangat besar. Mereka merasa, keabadian yang tersimpan di dalam potret itu nantinya kan menjadi pengobar kerinduan dalam perpisahan sementara.

Mereka sengaja melupakan sejenak perpisahan yang akan mereka alami nanti. Mereka dengan santainya menanti senja datang sambil meminum limun pada salah satu warung di deretan warung tenda sepanjang tepi kali sambil membicarakan hal-hal yang menyenangkan semata.

Menjelang malam itu, Batavia tak lagi menjadi kota mati. Para penghuninya mulai datang berduyun-duyun ingin menyaksikan karnaval sampan yang tak lama lagi dimulai. Puluhan sampan dengan ukiran naga atau singa pada bagian kepala, bertengger di tepi kali, dilengkapi dengan lampion warna-warni hingga menjadikan gelap penuh warna di tepi Kali Ciliwung itu. Mulai terdengar pula gambang-kromong dan cokek dari kelompok musik yang sengaja ditampilkan untuk menambah semarak perayaan pehcun malam itu.

Sarah dan Syafei menikmati semua suasana yang menyenangkan di sana meski tak sampai pada penghujung rangkaian. Mereka memutuskan untuk pulang meski malam belumlah larut demi menghindari terciumnya aksi pertemuan penuh sogokan dan penyamaran itu.

Sebagaimana telah dipesan oleh Sarah, dua babu yang menyertainya tadi siang telah menunggu di persimpangan jalan sebelum mencapai rumah.

Tiba di persimpangan jalan Syafei dan Sarah sepakat berpisah. Sudah akan berpamitan sebenarnya Syafei, ketika tiba-tiba dari beberapa penjuru muncul berlarian lima orang penjaga yang langsung menangkapnya. Kejadian mendadak yang terjadi di depan mata itu membuat gadis Sarah memekik dan meminta kepada lima orang penjaga itu untuk melepaskan Syafei. Namun tak dituruti.

Siapa yang kemudian datang juga tak pernah disangka-sangka. Dialah Tuan Olieslaeger yang langsung mencengkeram leher jas Syafei, sambil menghardiknya: “Bandit tengik. Akhirnya kau tertangkap juga. Kau akan mati dihukum pancung.” Sarah yang berteriak meminta ayahnya untuk melepas Syafei tak digubris. Diketahui kemudian, yang membocorkan pertemuan itu adalah dua orang babu yang tak lagi setia pada Sarah.

***

Di pagi yang masih muda, Syafei terbangun oleh bunyi berat langkah kaki. Saat ini, ia berada di ruang penjara bawah tanah yang ada dalam gedung Stadhuis. Tak berapa lama, dua orang sipir yang memasang tampang tak mengenakkan, menyeretnya menuju ruang pengadilan, masih di gedung Stadhuis itu juga. Ia langsung didudukkan di kursi terdakwa. Dalam ruangan itu sudah ada pejabat pengadilan. Tak berlangsung lama, tuduhan kesalahan langsung ditumpahkan kepada Syafei dalam pengadilan rekayasa yang digelar setelah para petugas pengadilan mendapatkan bayaran dari Tuan Olislaeger.

Syafei dikenai tuduhan melarikan anak orang dan telah menzinainya. Tuduhan tambahan yang memberatkannya adalah: mencuri setelan jas milik kontrolir Van der Maurik dan tindakan-tindakan perampokan yang selama ini dilakukannya terhadap orang Belanda dan Eropa yang kaya di Batavia. Hukuman yang kemudian dianggap pantas diterima pemuda bajingan semacam Syafei adalah hukuman pancung dengan pedang yang akan dilaksanakan bulan depan.

***

Pada hari yang sudah ditentukan, segenap penghuni Batavia berduyun-duyun menuju lapangan depan Stadhuis untuk menyaksikan eksekusi pancung sang pahlawan pujaan mereka: Syafei, rampok yang suka membagikan hasil rampokannya pada warga miskin. Mereka membawa serta kesedihan. Pahlawan mereka tak lama lagi akan hilang.

Menjelang eksekusi, suatu kehebohan menimpa. Semua yang hadir di sekitar Stadhuis, dibuat terkejut dengan berita bahwa Syafei sebagai terhukum menghilang. Dua orang sipir yang bermaksud menanyakan apa keinginan terakhir si terhukum sebelum dipenggal, menemukan penjara itu kosong dengan pintu jeruji berlapis yang gembok dan kuncinya dalam keadaan masih utuh. Sorak-sorai gembira terjadi pada kerumunan orang-orang miskin Batavia; sementara para pejabat pengadilan, pejabat Kompeni, dan Tuan Olisleager kebingungan setengah mati pada saat itu juga.

Desas-desus yang kemudian menyebar adalah pemuda Syafei memiliki ilmu menghilangkan diri. Namun, fakta yang sesungguhnya terjadi adalah, gadis Sarah telah menyuap dua sipir penjara itu untuk melepaskan Syafei di subuh menjelang eksekusi. Selepasnya dari sana, Syafei langsung menuju ke pelabuhan Sunda Kelapa dengan menaiki sado yang sudah disiapkan pula oleh Sarah. Setibanya di Sunda Kelapa, Syafei menyelinap masuk ke dalam kapal uap yang akan membawa mereka berdua menuju ke Amsterdam.

—***—
Tarakan, 15 Februari 2008
RAMA DIRA J.

dimuat di Tabloid NOVA no. 1051/XXI, 14-20 April 2008


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

hmmm, coba disusun lebih indah bahasanya. pasti seru. ceritanya bagus. tp kok bacanya jadi kayak baca tugas ringkasan cerita jaman sd ya???

Komentar oleh Sesy

@ Sesy:
Betul. Saya juga setuju dg pendapat Sesy. Ini cara bercerita Rama Dira J mmg agak mmbosankan. Masak sbuah cerpen kok ditulis tanpa ada Dialog antara para tokohnya, satu pun? Hanya tuturan begitu? Saya kira saya pernah mengenal nama Rama Dira J, a.l. sbg penerjemah cerpen. Saya belum menemukan Cerpen-nya (karyanya sendiri) yg lain.
Namun saya menampilkan di blog ini dg tujuan utama betapa sebuah Riwayat Sejarah itu dapat ditampilkan dlm sebuah Cerpen, betapa pun kualitas dari Cerpen itu sendiri.🙂
Ini cerita ttg BANG PI’I kiranya juga pernah diangkat menjadi film, seperti juga SI PITUNG, SI JAMPANG.. Alangkah bagus bila banyak penulis mau mengangkat tokoh2 tsb lebih banyak lagi dlm sebuah karya. ^_^

Komentar oleh Kang Nur




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: