The Nurdayat Foundation


Keris Pangeran Diponegoro dan Franz Ferdinand
Senin, 11 Oktober 2010, 9:06 pm
Filed under: Kolom, Sejarah | Tag: , , , ,

by HB Supiyo

Hari terasa tak berjalan. Menunggu adalah semacam derita yang datang tanpa diundang. Tak dikehendaki, tapi ia datang jua. Butuh semacam seni untuk mengelolanya, daya sabar untuk menerimanya, kendati hati ingin menolaknya. Kata orang bijak, mereka yang bersabarlah yang bisa bersyukur. Hikmah itu sering tak bisa dipahami, terutama oleh mereka yang berpikir dibimbing olah rasio.

Been waiting long?” tanya Fransisca.
Saya terkesiap. Merasa harus berlaku santun, saya menjawab,
For five minutes or so.”
Sisca tersenyum. Dan senyum itu sejatinya menyegarkan.

At last, Sisca,” saya membatin seraya menyembunyikan niat saya untuk sekedar menipu diri. Hampir setengah jam saya duduk di lobi Hotel Arabella Grand, Frankfurt.
I was suddenly called out of town. And been back ten minutes ago,” ucapnya lembut memancarkan permintaan maaf. Tanpa kata-kata, hanya hati dengan sorot mata yang mengesankan kejujuran.
It’s okay, dear Sisca,” jawab saya.
So it’s life,” tuturnya.
Life is wonderful,” saya menyela.
“Penuh misteri, kendati hidup itu indah. Berputar tanpa harus diputar,” sambung Sisca,”Berjalan, tanpa harus diminta berjalan.”
Saya lalu menambahkan, “Takkan pernah menempuh jalan buntu, kendati kebuntuan berserakan di sepanjang perjalanan.”

Nah, cerita berat apa yang hendak disampaikan perempuan 40-an tahun yang mendalami budaya Timur, khususnya Jawa ini?
“Kau percaya, Putra Mahkota Kerajaan Austria-Hongaria Franz Ferdinand, pernah memiliki sebuah keris tua; keris yang dipercaya milik Pangeran Diponegoro?” ujar Sisca mengawali pembicaraan.
Saya sedikit kaget.
“Bisa jadi dia membelinya. Tapi, tak mungkin ia memilikinya,” ucap saya.
Saya tak sampai hati untuk mengatakan bahwa sang pangeran yang-sejatinya-tak-berhak-memegang-keris-Diponegoro-itu akan menuai tuahnya. Keris, bagi orang Jawa yang mempercayainya sebagai tosan aji, ajining urip (besi bertuah, tuahnya hidup), tak akan diberikan oleh atau dimiliki seseorang tanpa ijin dari pemilik pertama.
*

Sisca meneruskan ceritanya. Ahli waris kekaisaran Austria berdarah Hapsburg itu termasuk kolektor benda budaya dunia Timur. Ia juga seorang adventurer, pengelana yang gila petualangan. Dengan ‘postur’ seperti itu, ia juga pernah mengunjungi Jawa. Dalam petualangan itulah ia mendapatkan sebilah keris yang diyakini milik Pangeran Diponegoro.
“Perang Diponegoro berakhir pada 1830,” kata saya. Jadi, kalau Franz Ferdinand beranjangsana ke Pulau Jawa tentunya itu setelah tahun 1830-an.

“Benarkah keris memiliki daya magis yang luar biasa?” tanya Sisca.
“Benar, jika orang meyakininya. Tidak, jika orang tak terbebani oleh daya tersembunyi di balik keindahan fisiknya.”

“Pidana apakah yang bakal menimpa seseorang yang memiliki keris tanpa tahu asal-usulnya? Atau membelinya sekadar untuk melengkapi koleksi pribadinya?” Sisca bertanya lagi.
Believe it or don’t,” saya menjawab, “Keris yang diperoleh dengan mahar (sejumlah uang sebagai tanda kasih) sekalipun, harus berinteraksi secara batin dan menyatu hati dengan si pemilik baru.”
If all efforts are in vain?” lanjut Sisca.
Time will come. Akan menuai petaka, bahkan maut, Sisca. Bagi si empunya atau kolektor baru yang masih tergolong anak kemarin sore merawat keris,” ucap saya dengan sedikit gemetar.
History repeats itself,” sambung Sisca.

Pada 28 Juni 1914, Putra Mahkota Franz Ferdinand ditembak mati oleh Gavrilo Princip di Sarajevo. Kematiannya menyulut Perang Dunia I yang sejak 1914-1918 memorak-morandakan hampir seantero Eropa.
“Franz Ferdinand kualat (kena kutuk),” tutur saya seraya mengira-ngira sesuka hati. Atau, ketika itu Eropa -terutama Austria-Hongaria, Bosnia, Kosovo dan Serbia- sudah diobok-obok dan dimatangkan untuk meyulut api Perang Dunia?
“Hans, keris Diponegoro itu kini tersimpan di Museum Etnologi di Wina, Austria,” Sisca menjelaskan.
Do come to Vienna, Hans. Spend a few hours to witness your Pangeran’s keris,” kata Sisca mengajak bernada sedikit menantang.
**

dimuat pada kolom “Sela” majalah SWA 05/XXIV/6 18 Maret 2008


4 Komentar so far
Tinggalkan komentar

tenan-e kang?

Komentar oleh pacarkecilku

@ Piet (pacarkecilku):
Ttg cerita keris Pangeran Diponegoro ada di Wina krn dulu dibawa oleh Franz Ferdinand; saya sendiri baru mbaca ya hanya di kolom HB Supiyo ini. Ini kolom ‘selingan’ di majalah SWA, jadi tidak bersifat riset ilmiah.
Tapi yg menarik dan menonjol pd tulisan HB Supiyo ini, saya nilai adalah Cara Bertutur-nya.🙂 Ini sebuah cara dan gaya menulis yg patut ditiru🙂, padahal hanya mnceritakan ttg rumor kecil.🙂

Komentar oleh Kang Nur

Keris Pangeran diponegoro ada berapa? Tebakan saya ada banyal. Jadi bisa jadi juga satu jatuh ketangan Frans Ferdinand.

Komentar oleh tengkuputeh

I know this if off topic but I’m looking into starting my own weblog and was wondering what all is needed to get set up? I’m
assuming having a blog like yours would cost a pretty penny?

I’m not very internet smart so I’m not 100% positive. Any tips or
advice would be greatly appreciated. Many thanks

Komentar oleh sip trunk providers




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: