The Nurdayat Foundation


Jaka Tingkir 01: Lahirnya Karebet
Sabtu, 19 Februari 2011, 6:55 pm
Filed under: Sejarah | Tag: ,

Ki Ageng di Pengging yang bernama Adipati Andayaningrat terkenal digdaya. Ia sangat disayang oleh Prabu Brawijaya di Majapahit serta mendapat hadiah putrinya. Punya dua putra, yaitu Ki Kebo Kanigara dan Ki Kebo Kenanga. Setelah punya dua anak itu, Adipati Andayaningrat meninggal. Kedua putranya itu saling berselisih, putra pertama Ki Kebo Kanigara terus mempertahankan agama Budha. Ia lalu pergi bertapa di dalam kawah dan di gunung2 meneladani para pertapa. Meninggalnya dibakar, tidak jelas di mana kuburnya. Adapun Ki Kebo Kenanga mengikuti agama Islam, menganut syara’ Kanjeng Rasul. Ia sudah mendirikan jamaah di Pengging. Banyak orang yang shalat Jum’at di Pengging. Ki Kebo Kenanga banyak berguru kepada Siti Jenar. Teman seperguruannya adalah Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Ngerang. Keempat orang tadi menjadi bersaudara serta bersatu hati atas kehendak Siti Jenar.

Sultan Demak mendengar berita, bahwa keturunan Ki Adipati Andayaningrat yang bernama Ki Kebo Kenanga, sekarang bernama Ki Ageng Pengging, itu sudah masuk Islam, tetapi belum ada yang menghadap ke Demak. Sinuhun Bintara itu agak marah, sebab Pengging dulu adalah bekas kabupaten, juga masih kerabat Sultan Demak. Mungkin ada pikiran mau mengangkat diri menjadi raja. Sultan Demak lalu mengutus sesepuh bernama Wanapala serta membawa tiga pesan: Pertama, Bagaimana niatnya hanya beribadah saja, apa ada keinginan untuk memiliki kerajaan Demak. Kedua, Sultan sudah tahu mereka itu masih kerabat Sultan Demak. Ketiga, Mengapa tidak mau menghadap ke Demak? Ki Wanapala diharapkan dapat menyimpulkan yang menjadi niatnya.

Sesudah jelas perintahnya, Ki Wanapala pun segera berangkat. Sesampainya di Pengging setelah bertemu dengan Ki Ageng Pengging mereka saling bersalaman. Ki Ageng bertanya tentang maksud dan tujuan kedatangannya, sepertinya perjalanannya begitu rahasia. Ki Ageng Wanapala berterus-terang bahwa dirinya diutus Kanjeng Sultan Demak.

Kedua orang tadi berdebat ramai, saling menang, dan kalah. Ki Wanapala setelah mengetahui niat dari Ki Ageng Pengging lalu pamit kembali ke Demak melaporkan kepada Sultan bahwa Ki Ageng Pengging memang punya gagasan. Secara lahir tetap beribadah, tetapi di dalam batin berniat menjadi raja. Begitu pandai bermain sandiwara. Kata Ki Wanapala, “Mohon ditunggu beberapa waktu lamanya, sebab sudah saya batasi selama dua tahun, supaya segera datang menghadap ke Demak.” Banyak kata-kata yang ditunjukkan Ki Wanapala untuk mencegah amarah Sultan kepada Ki Ageng Pengging.

Sekembalinya Ki Wanapala ke Demak, Ki Ageng Pengging bertemu Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Ngerang, dan Ki Ageng Butuh. Mereka mengadakan pertemuan sebab mendengar kabar penolakan Ki Ageng Pengging untuk datang ke Demak. Karena masih bersaudara, mereka bertiga khawatir kepada Ki Ageng Pengging. Saudara-saudara Ki Ageng Pengging menanyakan alasan mengapa menolak panggilan datang ke Demak untuk menghadap Sultan. Mereka memberi nasihat supaya menurut saja jika dipanggil lagi. Tetapi Ki Ageng tetap keras bertahan.

Waktu itu Ki Ageng Pengging nanggap wayang beber. Pada malam itu juga istrinya yang sedang hamil tua melahirkan anak laki-laki tampan parasnya disertai pelangi dan hujan lebat. Pertunjukan wayang beber dihentikan.

Bayi sudah dibersihkan dan diserahkan kepada Ki Ageng Tingkir, diterima lalu dipangku. Ki Ageng Tingkir berkata kepada Ki Ageng Pengging. “Saudaraku, putramu ini elok sungguh. Aku yakin anak ini kelak besar derajatnya, beruntunglah yang nanti sempat menyaksikan. Dan anak ini saya beri nama Mas Karebet, karena lahirnya justru pada saat ada pertunjukan wayang beber.” Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Butuh, dan Ki Ageng Ngerang setelah sepuluh hari tinggal di Pengging lalu bersama pulang. Tidak lama kemudian Ki Ageng Tingkir meninggal dunia. Ki Ageng Pengging juga diberitahu oleh istri Ki Ageng Tingkir. Ki Ageng Pengging menginap di Tingkir selama lima hari. Setibanya di rumah Ki Ageng Pengging sedih sekali, dalam batinnya rasanya ingin ikut meninggal saja.

***

Sultan Bintara lama menunggu-nunggu datangnya Ki Ageng Pengging sebab sudah sampai batas waktu dua tahun.  Sekarang Sultan Demak itu menyimpulkan bahwa Ki Ageng jelas-jelas mau melawan, tidak mau menghadap. Sultan lalu mengutus Sunan Kudus ke Pengging, menyampaikan murkanya. Sunan Kudus lalu berangkat hanya membawa tujuh orang sahabat serta membawa bendhe (gong kecil), wasiat dari mertuanya Adipati Terung. Bendhe itu bernama Ki Macan.

Sunan Kudus sepanjang jalan membuat wasiat nama-nama tanah pedusunan seperti dusun Sima, dusun Jimbangan, dusun Derana, dusun Aru-aru. Akhirnya perjalanan sampai ke Pengging. Di sana mereka saling berdebat tentang ilmu masing-masing. Ki Ageng Pengging ketahuan atas dua niatnya. Tetapi tidak menyimpang hukum melawan Raja. Ki Ageng Pengging akhirnya meninggal karena diiris sikunya oleh Sunan Kudus. Keluarga geger semua, mereka berniat membela kematiannya. Sunan Kudus dikejar. Sunan lalu mengeluarkan kesaktiannya. Temannya cuma tujuh orang, tetapi orang-orang Pengging merasa menghadapi dua puluh ribu orang lengkap dengan senjatanya. Tetapi orang Pengging tidak takut. Mereka tetap mengamuk sambil bertubi-tubi memukul sebuah bendhe yang bernama Kyai Udan Arum. Sunan Kudus lalu menunjukkan kesaktiannya lagi dengan melemparkan tongkatnya. Seketika itu juga hilanglah kemarahan orang-orang Pengging, pulanglah mereka untuk ngrukti, merawati jenasah Ki Ageng Pengging. Ia dimakamkan di sebelah timur laut dari rumahnya. Setelah kira-kira empat puluh hari, istri Ki Ageng Pengging menyusul meninggal dunia. Mas Karebet tinggal seorang diri, diasuh oleh sanak-saudaranya.

bersambung…

Catatan:

Tulisan ini bukanlah sumber sejarah yg terpercaya scr keilmuan, namun dapat menjadi bahan kajian ilmu sejarah. Tulisan ini adalah kutipan dari Cerita Babad, yaitu Babad Tanah Jawi.

Tulisan ini dikutip dari buku naskah terjemah ke dlm Bhs Indonesia, dr terjemah ke dlm Bhs Belanda karya W.I. Olthof di Belanda tahun 1941, yaitu: Babad Tanah Jawi: Mulai dari Nabi Adam sampai Tahun 1647 S terbitan Penerbit NARASI Yogyakarta cet. IV, th. 2008; halaman 45-48.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: