The Nurdayat Foundation


Jaka Tingkir 02: Mulai Mengabdi ke Demak
Senin, 21 Februari 2011, 7:28 pm
Filed under: Sejarah | Tag: ,

Setelah besar, Mas Karebet lalu dibawa oleh janda Ki Ageng Tingkir. Di sana ia sangat dimanjakan, dituruti segala keinginannya. Karena janda Ki Ageng sangat kaya-raya, terhormat di antara tetangga desa, Mas Karebet lalu terkenal dengan sebutan Jaka Tingkir. Tindak-tanduknya berbeda dengan anak-anak lain. Ia gemar menyepikan diri di gunung, di hutan, atau di gua-gua sampai sepuluh malam atau setengah bulan. Kemauannya tidak dapat dicegah dan dihalangi. Pada suatu hari Jaka Tingkir pulang lalu dipeluk oleh ibunya serta diberitahu, “Nak, kamu jangan suka ke gunung-gunung. Ketahuilah bahwa orang yang suka bertapa di hutan dan di gunung itu masih kafir, belum menganut agama Kanjeng Nabi. Lebih baik kamu berguru kepada mukmin.”

Ki Jaka lalu pamit akan berguru kepada seorang mukmin. Ibunya merelakan. Ki Jaka berangkat sendirian ke utara, ke timur sampai di Sela, untuk berguru kepada Ki Ageng Sela. Ki Ageng sangat senang melihat Ki Jaka Tingkir. Ia lalu diangkat jadi cucunya, sangat dimanjakan hidupnya. Di sana Ki Jaka gemar mendalang hingga terkenal kepandaiannya mendalang. Ki Ageng Sela semakin bertambah sayangnya. Mereka tidak pernah berpisah. Jika Ki Ageng sedang menyepi, Ki Jaka juga diajak.

Sebenarnya Ki Ageng Sela sedang menyepi. Di dalam batinnya besar sekali permohonannya ke Allah semoga kelak dapat menurunkan para raja yang menguasai tanah Jawa. Ia merasa masih kerabat keturunan Raja Brawijaya di Majapahit. Waktu itu Ki Ageng Sela sudah tujuh hari tujuh malam tinggal di gubuk di ladang yang baru dibuka, terletak di sebelah timur Tarub yang disebut hutan di Renceh. Suatu malam Ki Ageng tidur di situ. Jaka Tingkir tidur di bawah. Ki Ageng bermimpi ke hutan membawa kapak akan membabat hutan. Kelihatan dalam mimpinya Ki Jaka Tingkir sudah ada di sana, dan seluruh pohon sudah roboh, ditarik oleh Ki Jaka Tingkir. Di dalam mimpinya Ki Ageng heran sekali dan terbangun dari tidurnya. Jaka Tingkir masih tidur di bawah, lalu dibangunkan. Ki Ageng bertanya, “Nak, selama aku tidur apakah kamu tidak pergi-pergi?” Jawab Ki Jaka, “Tidak.”

Ketika Ki Ageng mendengar jawaban cucunya, sangat menyesal kenapa semua cuma mimpi. Berbicara dalam batin, “Menyesal benar saya. Besar permohonanku kepada Allah, dan selama ini saya belum pernah mendapat firasat demikian.” Anak yang tidak memohon kepada-Nya ini malah diberi firasat seperti itu. Ki Ageng lalu bertanya kepada Ki Jaka, “Nak, seingatmu dulu pernah bermimpi apa?” Ki Jaka menjawab secara terus-terang, “Ketika saya sedang tirakat di Gunung Telamaya, di situ waktu malam saya tidur dan bermimpi kejatuhan bulan. Seketika itu juga Gunung Telamaya ada suara menggelegar. Saya lalu terbangun, mimpi itu makna apa?” Ki Ageng yang mendengar cerita cucunya itu semakin heran. Dalam batinnya andaikata tidak takut kepada Allah, Ki Jaka akan dibuat celaka. Tetapi Ki Ageng sadar kalau kodrat Allah tidak dapat ditolak oleh manusia.

Ki Ageng berkata, “Nak, tidak usah bertanya apa makna impianmu. Itu bagus sekali, itu raja segala impian. Adapun nasehat saya kepadamu, sekarang mengabdilah ke Demak. Itu akan menjadi perantaraan untuk bertemu makna dari mimpimu. Aku membantu dalam doa saja.” Ki Jaka menjawab, “Saya bersedia melaksanakan perintah Eyang. Saya junjung tinggi selama-lamanya.” Ki Ageng berkata lagi, “Iya, Nak, saya akan mengurangi makan dan tidur. Semoga kamu dapat menemukannya. Tetapi Nak, semoga anak-turunmu kelak dapat menjadi penerus wahyumu.” Ki Jaka mengiyakan saja. Setelah Ki Ageng Sela mendengar jawaban Ki Jaka itu amat lega hatinya, panjang-lebar ajarannya kepada Ki Jaka.

Ki Jaka lalu berangkat. Dalam perjalanannya ia mampir ke Tingkir, memberitahu ibunya perintah Ki Ageng Sela. Ibunya berkata, “Nak, petunjuk Ki Ageng Sela itu benar sekali, jadi ada sesuatu yang diharapkan. Segera laksanakan, tetapi tunggulah dua orang pembantu saya. Baru saya suruh membersihkan rumput tanaman padi gaga. Mereka akan saya suruh mengantarkan kamu. Saya punya saudara laki-laki yang menjadi abdi di Demak, namanya Kyai Ganjur menjadi Lurah Suranata. Kepadanya kamu kutitipkan dan menghadapkan kepada sang raja.”

Ki Jaka menurut perintah ibunya. Lalu mereka pergi ke ladang membantu kedua pembantu itu menyiangi rumput. Sampai sehari tidak pulang-pulang. Setelah waktu Asar datanglah mendung dan hujan gerimis. Sunan Kalijaga sedang berada dekat ladang itu bertongkat cis. Ki Jaka dipanggil dari luar padang padi gaga itu. katanya, “Nak, kamu itu selalu membersihkan tanaman padi gaga saja. Berhenti, segeralah mengabdi ke Demak sebab kamu itu calon raja yang menguasai tanah Jawa.” Selesai berkata, Sunan Kalijaga lalu pergi ke utara. Setelah sudah tak kelihatan Ki Jaka pulang menceritakan pengalaman itu kepada ibunya.

Mendengar itu ibunya amat gembira, serta berkata, “Nak, kamu itu beruntung sekali mendapat petunjuk dari Sunan Kalijaga. Segera berangkatlah ke Demak, jangan menunggu-nunggu ke ladang gaga lagi. Sisanya saya gotong-royongkan saja.” Ki Jaka lalu berangkat disertai dua orang pembantunya. Setelah sampai di Demak, singgah di rumah Kyai Ganjur.

***

Sultan Bintara sudah sampai saatnya dipanggil Tuhan. Ia meninggalkan enam putra. Nomor satu putri bernama Ratu Mas, sudah bersuami dengan Pangeran Cirebon. Nomor dua Pangeran Sabrang Lor yang menggantikan Raja. Lalu Pangeran Seda Lepen, Raden Trenggana, Raden Kandhuruhan. Bungsunya bernama Raden Pamekas. Pengganti  raja itu tidak lama. Ia mangkat belum berputra. Raja digantikan oleh Raden Trenggana dan bergelar Sultan Demak. Patih Mangkurat juga sudah meninggal, yang menggantikan patih adalah anak laki-lakinya yang bernama Patih Wanasala. Kebijaksanaannya melebihi ayahnya. Para bupati di bawah semua segan dan sayang.

Raden Jaka Tingkir sudah diterima mengabdi kepada Sultan Demak. Diterimanya pengabdiannya itu bermula dari satu peristiwa. Saat itu Sultan Demak keluar dari masjid, Ki Jaka baru duduk di pinggir blumbang, kolam. mau menyingkir tidak bisa, sebab terhalang oleh blumbang itu. Ki Jaka lalu melompati kolam itu dengan gerakan membelakang. Ketika menyaksikan itu Sultan Demak sangat terkejut. Lalu ditegur. Ki Jaka menjawab bahwa dirinya adalah keponakan Kyai ganjur. Ki Jaka lalu dihadapkan dan diangkat menjadi abdi.

Kanjeng Sultan sangat sayang kepada Ki Jaka Tingkir, sebab rupanya tampan serta sakti kedigdayaannya. Lama-kelamaan Ki Jaka Tingkir diangkat jadi putranya, diberi wewenang keluar-masuk istana serta dijadikan pimpinan prajurit tamtama, terkenal di seluruh kerajaan Demak.

Tidak lama kemudian lagi Sang Prabu punya niat menambah prajurit tamtama lagi sejumlah empat ratus orang. Sang Prabu mengambil dan memilih orang-orang dari seluruh negeri dan pedusunan, dipilih orang yang sakti dan kuat. kalau sudah didapatkan lalu diuji dan diadu dengan banteng. Jika mampu menempeleng banteng hingga remuk kepalanya, diterima menjadi prajurit tamtama.

Alkisah, ada orang dari Kedu Pingit, namanya Ki Dhadhung Awuk. Rupanya jelek, sangat sombong dengan kekuatannya. Ia datang ke Demak berniat menjadi prajurit tamtama. Setelah dihadapkan Ki Jaka Tingkir, lalu dipanggil. Setelah melihat tampangnya Jaka Tingkir sangat tidak suka, sebab rupanya sangat tidak menyenangkan. Lalu ditanya, berhubung di kampungnya sudah terkenal kuatnya, beranikah dicoba untuk ditusuk? Jawabannya ya berani? Dhadhung Awuk lalu ditusuk dengan sadak kinang (alat untuk makan sirih). Dadanya pecah, lalu tewas. Teman-teman tamtama disuruh menusuki dengan keris. Mayat Dhadhung Awuk lukanya amat parah.

Raden Jaka Tingkir kesaktiannya semakin termasyhur. Pada saat itu, kematian Dhadhung Awuk dilaporkan kepada Sultan. Jaka Tingkir telah membunuh orang yang mau masuk menjadi prajurit tamtama. Kanjeng Sultan sangat marah, sebab ia adalah raja yang sangat adil. Raden Jaka Tingkir lalu diusir dari Demak. Raja memberi uang duka kepada ahli warisnya yang meninggal sebesar lima ratus reyal.

Adapun Raden Jaka Tingkir lalu pergi seketika itu juga dari Demak. Siapa saja yang melihat sangat kasihan semua, teman-teman prajurit tamtama juga menangisinya. Raden Jaka Tingkir sangat menyesal dengan perbuatannya yang sudah terjadi dan begitui malu melihat orang-orang Demak. Badannya tak berdaya. dalam hatinya sangat senang jika segera mati saja. Tujuan perjalanannya ke arah tenggara masuk ke hutan besar, tidak jelas yang dituju karena sangat bingung hatinya.

 

bersambung…

Catatan:

Tulisan ini bukanlah sumber sejarah yg terpercaya scr keilmuan, namun dapat menjadi bahan kajian ilmu sejarah. Tulisan ini adalah kutipan dari Cerita Babad, yaitu Babad Tanah Jawi.

Tulisan ini dikutip dari buku naskah terjemah ke dlm Bhs Indonesia, dr terjemah ke dlm Bhs Belanda karya W.I. Olthof di Belanda tahun 1941, yaitu: Babad Tanah Jawi: Mulai dari Nabi Adam sampai Tahun 1647 S terbitan Penerbit NARASI Yogyakarta cet. IV, th. 2008; halaman 48-51.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: