The Nurdayat Foundation


Jaka Tingkir 03: Dari Diusir lalu Sigra Milir Kembali ke Demak
Jumat, 25 Februari 2011, 1:10 pm
Filed under: Sejarah | Tag: ,

Diceritakan ketika di dalam hutan serta berjalan tanpa arah dan tujuan sampai lima bulan. Waktu itu perjalanannya sampai di hutan jati di Gunung Kendheng. Di situ bertemu dengan Ki Ageng Butuh. Ki Ageng sangat terkejut, ia mendekat seraya berkata, “Nak, berhentilah. Rupamu, romanmu mirip kakak dari Pengging yang sudah meninggal, jika kamu jadi anaknya layak sekali. Cuma lebih tampan kamu, tinggi badanmu seimbang. Kakak Pengging dulu agak ketinggian sedikit. Cepat jawab asalmu dari mana?” Jaka Tingkir menjawab, “Saya memang putra Ki Ageng Pengging.” Setelah mendengar jawaban itu Ki Ageng Butuh merangkul Ki Jaka Tingkir seraya berkata, “Ada apa Nak, kamu berada di tengah hutan ini?” Ki Jaka menceritakan pengalamannya dari awal sampai akhir. Kyai Ageng hanya bisa tertegun.

Ki Ageng segera pulang dan Jaka Tingkir dibawa serta. Sesampainya di Butuh Jaka Tingkir dielu-elukan. Kyai Butuh segera mengundang Kyai Ageng Ngerang, dia juga datang di sana. Lalu diberitahu bahwa Raden Jaka ini adalah putra Kyai Ageng Pengging. Kyai Ageng Ngerang segera memeluk dan menangis.

Katanya, “Nak, aku dulu menengok ke Pengging tetapi kamu sudah tidak ada dibawa ibumu ke Tingkir. Sekarang aku gembira sekali. Tetapi kamu sedang menderita. Terimalah. Semua perbuatan yang tidak benar itu atas kehendak Allah, dan wajar bahwa semua orang yang akan bahagia harus memulai dengan penderitaan.”

Ki Ageng Butuh dan Kyai Ngerang banyak sekali memberi ajaran kepada Jaka Tingkir. Ia sangat berterimakasih serta senang hatinya. Jaka Tingkir tinggal di Butuh sampai dua bulan. Setelah menyelesaikan pelajarannya, Kyai Butuh berkata, “Nak, berhubung sudah tujuh bulan kamu pergi dari Demak, sekarang kembalilah ke sana, atau pulanglah ke Tingkir dan Pengging. Mungkin Sultan sudah sadar serta memanggil kamu. Ki Jaka Tingkir menjawab bersedia, lalu berangkat sendirian. Setibanya di luar kota Demak, lalu mengirim pesan kepada teman-teman tamtama. Mereka datang secara sembunyi-sembunyi. Ki Jaka bertanya kepada teman-temannya, berhubung kepergiannya sudah lama apakah Sang Prabu pernah menanyakan dirinya.

Jawab para tamtama, bahwa Sultan belum pernah menanyakan dirinya. Mendengar itu Ki Jaka Tingkir sangat sedih hatinya. Lalu pamit kepada teman-temannya berniat mengembara lagi.

Perjalanannya menuju Pengging. Di malam hari ia tidur di lantai kuburan ayahnya sampai empat hari. Lalu ia mendengar suara gaib, “Nak, pergilah engkau ke arah tenggara. Di dekat desa Getas Aji ada orang yang tinggal di situ bernama Ki Buyut Banyubiru. Ikutlah kamu di situ dan laksanakan segala perintahnya.” Jaka Tingkir terkejut dan segera bangun dari tidurnya, berangkat sendirian.

***

Lain cerita di Dukuh Cal Pitu, di kaki Gunung Lawu. Di situ ada seorang pertapa yang bernama Ki Jaka Leka, masih trah dari Majapahit. Ia mempunyai seorang anak laki-laki, bagus rupanya bernama mas Manca. Ki Mas Manca pergi dari pedukuhannya berniat bertapa di pesisir laut selatan. Ia berhenti di Banyubiru, lalu dijadikan anak angkat oleh Ki Buyut Banyubiru, serta sangat disayang, diberi kebebasan segala tingkah lakunya, diajari segala ilmu kesaktian dan diperintahkan bertapa supaya segera memperoleh derajat. Sebab Ki Buyut tahu bahwa Mas Manca akan menjadi pendamping raja. Pada waktu itu Ki Buyut berkata, “Nak Mas Manca, rajamu hampir datang ke sini. Dua hari lagi akan datang. Jika sudah tiga bulan tinggal di Banyubiru, itu tanda peresmian raja sudah dekat. Kelak akan beribukota di Pajang. Kamu akan menjadi patihnya. Raja itu sangat sakti dan disegani musuh. Kerajaannya angker. Dia adalah keturunan Andayaningrat di Pengging. Saya kelak akan merekayasa, agar cepat penyesuaian menjadi raja.” Ki Mas Manca berterimakasih.

Dua hari kemudian, Raden Jaka Tingkir datang di Banyubiru, lalu diangkat menjadi putranya oleh Ki Buyut. Begitu sangat didambakan, dipersaudarakan dengan Mas Manca. Ki Buyut menuntaskan pengajarannya kepada Raden Jaka Tingkir bersama Mas Manca. Sesudah genap tiga bulan, Ki Buyut berkata kepada Ki Jaka Tingkir, “Nak, sudah sampai saatnya kamu menunjukkan diri kepada Kanjeng Sultan, saat ini musim penghujan, Sultan mesti berada di istana di Gunung Prawata. Saya kira kalau kamu datang ke Prawata, Sultan belum pulang ke Demak. Aku membawa syarat yang bisa membuatmu ditanggapi Kanjeng Sultan. Tanah ini masukkan ke dalam mulut kebo danu. Pasti kerbau tadi langsung mengamuk di Prawata. Orang Demak tak ada yang bisa membunuh kerbau tadi, tanahnya buanglah terlebih dahulu, mesti kerbau tadi dapat kau bunuh. Dan kamu saya beri pengikut adikmu Ki Mas Manca serta saudara laki-lakiku bernama Ki Wuragil dan keponakanku, anak Ki Buyut Majasta namanya Ki Wila. Tiga orang tadi jangan sampai pisah dengan kamu.” Jaka Tingkir menjawab siap-sedia menjalankan perintah.

Kyai Buyut lalu memerintah anak-cucunya agar membuat rakit untuk dinaiki Jaka Tingkir. Setelah siap semuanya lalu berangkat naik rakit. Ki Buyut mengantar sampai di tepi sungai sambil berdoa menengadah ke langit. Ki Majasta ikut naik ke atas rakit. Rakit mengikuti aliran sungai Dengkeng. Setelah sampai di dusun tempat tinggal Ki Majasta berhenti dan bermalam di situ selama tiga hari, lalu berangkat lagi. Ki Majasta tidak ikut. Rakit terus melaju sampai di Bengawan Picis. Empat orang tadi, dua orang mendorong pakai tongkat, dua orang lainnya mengayuh waktu pukul empat sore di Kedung Srengenge. lalu ada awan gerimis bercampur angin. Di Kedung Srengenge itu ada raja buaya bernama Baureksa, patihnya bernama Jalumampang. Bala buaya itu terbilang banyak jumlahnya mendorong rakit itu ke darat. Lalu terjadi perang ramai sekali dengan Mas Manca di daratan. Patih Jalu Mampang bersama tujuh puluh buaya mati semua disabetkan pada batang-batang kayu oleh Mas Manca. Jaka Tingkir lalu terjun ke dalam sungai, rasanya seperti di daratan saja. Lalu perang semakin ramai, banyak buaya yang mati. Raja buaya yang bernama Baureksa menyerah kepeda Raden Jaka Tingkir. Ia berjanji akan mengantarkan perjalanannya, dan memberi hadiah satu buaya setiap tahun.

Raden Jaka Tingkir lalu naik rakit lagi.  Jalannya rakit disangga oleh empat puluh buaya, yang di atas tinggal santai-santai saja. Tongkat dan kayuh dibuang saja.* Di waktu malam sampai di wilayah Butuh, rakit diketuk-ketuk. Buaya-buaya itu mengerti isyarat tadi, rakit dihentikan. Raden Jaka beserta tiga temannya berhenti karena terlalu lelah dan mengantuk, lalu tertidur di atas rakit.

Waktu itu tengah malam Ki Ageng Butuh keluar dari rumahnya terkejut melihat wahyu kerajaan meluncur dari barat daya jatuh di sungai tempat di mana Raden Jaka Tingkir dan teman-temannya tidur. Ki Ageng Butuh mendatangi jatuhnya wahyu kerajaan itu. Sesampainya di sana Ki Ageng tidak sangsi lagi dengan Raden Jaka Tingkir yang tidur di rakit, kejatuhan wahyu kerajaan.

Lalu dibangunkan, “Nak bangunlah jangan selalu tidur saja. Wahyu kerajaan di Demak sudah berpindah tangan kepadamu.” Raden Jaka dan teman-temannya segera bangun. Mereka lalu diajak ke tempat tinggal Ki Ageng Butuh. Ki Ageng Ngerang juga sudah dimohon datang di situ. Ia lalu memberi pelajaran kepada Raden Jaka,  berhubung wahyu kerajaan sudah berpindah ke dirinya, ia yang akan menggantikan Sultan Demak. Jangan sampai terlambat, dimohon kepada Allah agar Sultan rela dan tulus-ikhlas, juga diajari perbuatan yang mulia. Banyak sekali ajaran-ajaran diberikan Ki Ageng berdua kepada Raden Jaka Tingkir. Raden Jaka sangat berterimakasih, akan melaksanakan ajaran tadi. Raden Jaka Tingkir lalu mohon pamit berangkat beserta temannya dengan naik rakit. Perlahan melaju sampai ke dusun Bulu, tanah Majeneng lalu ke darat. Buaya-buaya dipesan agar kembali ke tempatnya di Kedung Srengenge. Jaka Tingkir dan teman-temannya berjalan di darat. Mulai sejak itu dusun Bulu diganti nama Tindak.

 

bersambung…

Catatan:

Tulisan ini bukanlah sumber sejarah yg terpercaya scr keilmuan, namun dapat menjadi bahan kajian ilmu sejarah. Tulisan ini adalah kutipan dari Cerita Babad, yaitu Babad Tanah Jawi.

Tulisan ini dikutip dari buku naskah terjemah ke dlm Bhs Indonesia, dr terjemah ke dlm Bhs Belanda karya W.I. Olthof di Belanda tahun 1941, yaitu: Babad Tanah Jawi: Mulai dari Nabi Adam sampai Tahun 1647 S terbitan Penerbit NARASI Yogyakarta cet. IV, th. 2008; halaman 51-54.

 


4 Komentar so far
Tinggalkan komentar

* Di sinilah tepatnya terjadinya episode drama mitos tradisional yg diceritakan turun-temurun “Jaka Tingkir penakluk buaya” itu. Saya sendiri pun mendapatkan cerita dongeng ini dari Ibu saya sendiri dalam tembang Macapat MEGATRUH yg terkenal tsb:

Sigra milir, sang gethek sinangga bajul,
kawan dasa kang njageni,
ing ngarsa miwah ing pungkur,
tanapi ing kanan-kering,
sang gethek lampahnya alon.

Segera mengalir
sang rakit yang disangga oleh buaya-buaya,
empat puluh (buaya) yang menjaganya,
di depan serta di belakang,
juga di kanan dan di kiri,
sang rakit melaju tenang.

Sebuah dongeng epik kepahlawanan yg menawan menghanyutkan hati kami anak-anak Jawa Tengah; tentang Jaka Tingkir yg perkasa dan sakti.

Komentar oleh Kang Nur

Kang Nur….
asyik banget cerita nya…..
tolong dong di terus kan…..

Komentar oleh otna otnawrup

OK🙂

Komentar oleh Kang Nur

JOKO TINGKIR BERASAL DARI DESA KAREBET BALARAJA.DIDESA RAWABUAYA JAKARTA BARAT BERHASIL MENAKLUKAN 40 BUAYA,ANALISA PERBANDINGAN UMUR KOTA SAMPE SKRNG
.

Komentar oleh agus Dimyati, SH




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: