The Nurdayat Foundation


Jaka Tingkir 04: Menaklukkan Kebo Danu
Jumat, 11 Maret 2011, 11:49 am
Filed under: Sejarah | Tag: ,

Perjalanan Raden Jaka ke arah utara barat lewat Grobogan. Sampai di daerah Prawata Raden Jaka melihat bahwa Raja masih bersemayam di situ belum pulang ke Demak. Raden Jaka Tingkir lalu mencari kerbau danu. Setelah mendapatkan lalu dimasukkan tanah bawaan dari Majasta ke dalam mulutnya. Kerbau tadi segera lari mengamuk di pesanggrahan Prawata, mengobrak-abrik pesanggrahan, dan menanduk orang-orang. Banyak orang yang luka dan tewas membuat panik orang ke Prawata. Kerbau itu dikeroyok dan ditusuk dengan banyak senjata tetapi tidak mempan. Sultan lalu memerintahkan para tamtama, supaya melawan amukan kerbau tadi. Mereka sudah membawa senjata, sebab sudah dilatih menempeleng kerbau sekali hingga hancur kepalanya dan tewas. Para tamtama lalu menyambutnya, sendiri, berganti-ganti. Tapi tak ada yang dapat menyelesaikan tugas. Malah banyak yang tergeletak disepak dan diinjak-injak. Amukan kerbau itu berlangsung sampai tiga hari tiga malam. Jika sore hari masuk ke hutan, pagi hari datang mengamuk, mengamuk lagi di pesanggrahan dan mengejar orang.

Setiap hari Sultan melihat dari panggung. Pada waktu Sultan itu melihat Jaka Tingkir diikuti tiga orang berjalan di belakang barisan. Geraknya seakan melihat amukan kerbau itu. Sang Raja memanggil abdinya yang bernama Jebad, “Jebad, aku seperti melihat si Tingkir diikuti tiga pembantunya, saya tidak lupa. Tanyakan padanya apa dia berani diadu dengan kerbau yang mengamuk. Jika si Tingkir dapat membunuh kerbau itu, saya ampuni dosanya.” Setelah diperintahkan Jaka Tingkir menjawab bersedia. Sang Prabu lalu memerintahkan untuk mengepung kerbau serta menyoraki Jaka Tingkir ketika berkelahi dengan kerbau. Mereka diperintahkan menabuh monggah, kendhang gong. Sang Raja melihat dari panggung. Jaka Tingkir lalu mendatangi kerbau, kerbau itu lalu menanduk. Perkelahian berlangsung lama, yang menyaksikan keheran-heranan. Raden Jaka Tingkir dilempar ke atas, diterima dengan tanduk, namun tidak apa-apa. Tanduk serta ekor kerbau ditangkap, lalu dihentak. Kerbau roboh bergelimpang, tanah syarat dari Banyubiru sudah keluar. Kerbau ditempeleng remuk kepalanya, tewas seketika, membuat kagum serta gembira Sang Raja dan semua orang yang menyaksikan. Raden Jaka Tingkir lalu dikembalikan kedudukannya seperti dulu menjadi pimpinan prajurit tamtama. Kanjeng sudah kembali pulih kasih sayangnya kepada Jaka seperti semula. Sang Raja lalu kembali ke Demak.

Tidak lama kemudian Sultan berangkat ke Cirebon memohon kepada Sunan Kalijaga untuk berkenan tinggal di negara Demak. Sunan Kalijaga menurut, lalu bertempat tinggal di Adilangu, pekerjaannya mengajar agama Rasul. Sudah banyak muridnya.

Catatan: Tulisan ini bukanlah sumber sejarah yg terpercaya scr keilmuan, namun dapat menjadi bahan kajian ilmu sejarah. Tulisan ini adalah kutipan dari Cerita Babad, yaitu Babad Tanah Jawi.

Tulisan ini dikutip dari buku naskah terjemah ke dlm Bhs Indonesia, dr terjemah ke dlm Bhs Belanda karya W.I. Olthof di Belanda tahun 1941, yaitu: Babad Tanah Jawi: Mulai dari Nabi Adam sampai Tahun 1647 S terbitan Penerbit NARASI Yogyakarta cet. IV, th. 2008; halaman 55-56.


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Hmm, cara cantik menebus kesalahan …🙂

Komentar oleh Sugiarno S

salam sahabat, nuwun sewu napangken! saking mbantul ugi

Komentar oleh mas-tony




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: