The Nurdayat Foundation


Jaka Tingkir 05: Ki Ageng Sela Menangkap Petir
Selasa, 22 Maret 2011, 2:29 pm
Filed under: Sejarah | Tag: , , ,

Alkisah Kyai Ageng di Sela bermaksud menjadi prajurit tamtama. Ia lalu dicoba diadu dengan banteng. Banteng ditempeleng sekali pecah kepalanya, darahnya muncrat.

Kyai Ageng menoleh. Lalu ditanya mengapa menoleh. Ia menjawab karena terkena cipratan darah. Ki Ageng ditolak keinginannya menjadi tamtama, dinilai takut pada darah. Ia sangat malu lalu pulang dan menyiapkan senjata berniat mengamuk merusak istana Demak. Ki Ageng naik kuda diikuti temannya juga naik kuda, sedang yang berjalan kaki banyak sekali.  Sesampainya di antara pohon beringin dekat alun-alun Demak lalu memanah Sultan.

Kena kepala kudanya hingga melonjak dan menubruk kuda temannya. Kuda-kuda itu berhamburan. Lalu dipanah lagi kena tali kendalinya. Kudanya lalu pulang ke Sela. Temannya juga pulang ke Sela. Temannya juga bubar semua. Sang Raja yang melihat sangat senang hatinya serta berkata kepada Wanasalam, “Ternyata tipis hati Anakmas Sela. Saya kira tidak bisa jadi Raja, entah kalau keturunannya.”

Sri Sultan Demak itu  berputra enam. Putra pertama, putri, sudah dinikahkan dengan putra Ki Ageng Sampang bernama Pangeran Langgar. Adiknya seorang putra bernama Pangeran Prawata. Ketiga, putri, dinikahkan dengan Pangeran Kalinyamat. Keempat, putri, dinikahkan dengan Pangeran Cirebon. Kelima, putri, dipersunting Jaka Tingkir. Bungsu bernama Pangeran Timur. Jaka Tingkir setelah perkawinannya lalu diangkat menjadi Bupati Pajang, diberi kedudukan tanah seluas empat ribu karya. Menghadap ke Demak tiap tahun. Tiada lama kemudian Pajang menjadi tempat yang ramai gemah ripah loh jinawi. Adipati Pajang sudah membuat istana.

Diceritakan selanjutnya bahwa Sultan Demak sudah mangkat, setelah itu Adipati Pajang diangkat menjadi Sultan. Negara yang di bawah kekuasaan Demak digabung dalam kekuasaan Pajang, yang membangkang ditundukkan dengan perang. Tanah pesisir, mancanegara, bang wetan, pesisir barat semua sudah takluk kepada Pajang. Hanya ada satu yang tetap tidak mau tunduk, yaitu Adipati Jipang, bernama Arya Penangsang. Ia putra Pangeran Sekar Seda Lepen, cucu Sultan Demak. Jadi masih saudara istri Adipati Pajang (kakak sepupu -pen.) Adapun yang menguasai Negeri Demak, putra Sultan yang kedua bernama Prawata, tetapi rukun dengan Adipati Pajang. Sama-sama bisa menerima. Putra Sultan yang bungsu bernama Pangeran Timur dibawa ke Pajang lalu diangkat menjadi bupati di Madiun.

Kembali ke cerita sebelumnya, ketika Kanjeng Sultan masih berkuasa di Demak, waktu itu Ki Ageng Sela sedang pergi ke sawah membawa cangkul dalam keadaan hujan. Saat itu menjelang ‘Asar, setibanya di sawah terus mencangkul. Baru memperoleh tiga cangkulan lalu ada kilat datang dalam rupa seorang laki-laki. Kyai Ageng tahu bahwa kilat harus segera ditangkap. Kilat itu berbunyi menggelegar. Ki Ageng kukuh memegangnya. Kilat lalu diikat, diserahkan ke Demak. Kilat lalu dipenjara besi. Sang Prabu lalu memberi perintah, kilat itu tidak diperkenankan diberi air. Orang-orang Demak besar-kecil semua ingin melihat. Lalu ada seorang perempuan tua memberi air dengan tempurung. Ia adalah istri dari kilat yang dipenjara itu. Kilat di dalam penjara setelah menerima air itu lalu berbunyi menggelegar, penjara besi hancur seketika, kedua kilat itu hilang bersama.

 

Catatan: Tulisan ini bukanlah sumber sejarah yg terpercaya scr keilmuan, namun dapat menjadi bahan kajian ilmu sejarah. Tulisan ini adalah kutipan dari Cerita Babad, yaitu Babad Tanah Jawi.

Tulisan ini dikutip dari buku naskah terjemah ke dlm Bhs Indonesia, dr terjemah ke dlm Bhs Belanda karya W.I. Olthof di Belanda tahun 1941, yaitu: Babad Tanah Jawi: Mulai dari Nabi Adam sampai Tahun 1647 S terbitan Penerbit NARASI Yogyakarta cet. IV, th. 2008; halaman 57-58.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: