The Nurdayat Foundation


Jaka Tingkir 07: Arya Penangsang
Rabu, 13 April 2011, 1:19 pm
Filed under: Sejarah | Tag: , , , , , ,

Pada waktu itu banyak orang Jawa yang belajar agama Islam, kedigdayaan, dan kekuatan badan. Ada dua orang guru yang terkenal, yaitu Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus.  Sunan Kudus itu muridnya tiga orang; yaitu Arya Penangsang di Jipang, Sunan Prawata dan Sultan Pajang. Yang paling disayang adalah Arya Penangsang.

Waktu itu Sunan Kudus sedang duduk-duduk di rumahnya dengan Pangeran Arya Penangsang. Sunan Kudus berkata kepada Arya Penangsang, “Orang membunuh sesama guru itu, hukumnya apa?” Perlahan jawab Arya Penangsang, “Hukumnya harus dibunuh, tetapi saya belum tahu siapa yang berbuat sedemikian itu.” Sunan Kudus berkata, “Kakakmu di Prawata.” Arya Penangsang setelah mendengar perintah Sunan Kudus, bersedia membunuh Sunan Prawata. Ia lalu mengutus abdi pengawalnya bernama Rangkud lalu berangkat. Sesampai di Prawata ketemu dengan Sunan Prawata yang sedang sakit dan bersandar pada istrinya. Setelah melihat Rangkud Sunan Prawata bertanya, “Kamu itu orang siapa?” Rangkud menjawab, “Saya adalah utusan Arya Penangsang, memerintahkan untuk membunuhmu.” Sunan Prawata berkata, “Ya, terserah, tetapi saya sendiri sajalah yang engkau bunuh, jangan mengikutkan orang lain.” Rangkud lalu menusuk sekuat-kuatnya. Dada Sunan Prawata tembus sampai ke punggungnya serta menembus dada istrinya. Sunan Prawata setelah melihat istrinya terluka, segera mencabut kerisnya Kyai Betok, lalu dilemparkan ke Rangkud. Si Rangkud tergores oleh kembang kacang (hiasan pada pangkal keris), ia jatuh ke tanah lalu tewas. Sunan Prawata dan istrinya juga meninggal dunia. Meninggalnya bersengkalan tahun 1453 S (=1531 M?)

Arya Penangsang begitu tega membunuh Sunan Prawata sebab ayahnya juga dibunuh oleh Sunan Prawata, saat pulang dari shalat Jum’at. Ia dicegat di tengah jalan oleh utusan Sunan Prawata bernama Surayata. Ki Surayata tadi juga sudah dibunuh oleh teman ayah Arya Jipang.

Sunan Prawata tadi mempunyai saudara perempuan namanya Ratu Kalinyamat. Dia begitu tidak terima atas kematian saudara laki-lakinya itu. Lalu berangkat ke Kudus bersama suaminya berniat minta keadilan kepada Sunan Kudus. Jawab Sunan Kudus, “Kakakmu itu sudah hutang pati kepada Arya Penangsang. Sekarang tinggal membayar hutang itu saja.” Ratu Kalinyamat mendengar jawaban Sunan Kudus itu sangat sakit hatinya. Lalu kembali pulang. Di tengah jalan dibegal utusan Arya Penangsang. Laki-lakinya dibunuh. Ratu Kalinyamat sangat terpukul hatinya. Sebab baru saja kehilangan saudaranya, lalu kehilangan suaminya. Ia jadi sangat menderita. Lalu bertapa telanjang di bukit Danaraja. Sebagai ganti kain untuk menutup auratnya adalah rambutnya yang diurai. Ratu Kalinyamat berprasetia tidak mau memakai kain selama hidup jika Arya Penangsang belum meninggal. Ia bernadar barangsiapa dapat membunuh Arya Jipang, dia akan mengabdi kepadanya dan akan menyerahkan seluruh kekayaannya.

Pada suatu ketika Sunan Kudus sedang berbincang-bincang dengan Arya Penangsang, Sunan Kudus berkata, “Kakakmu Sunan Prawata dan Kyai Kalinyamat sekarang sudah mati, tetapi belum lega rasanya kalau belum menguasai tanah Jawa semua. Jika masih ada adikmu Sultan Pajang saya kira tidak mungkin bisa jadi raja, sebab dia adalah penghalang.” Arya Penangsang berkata, “Jika diperkenankan atas izin Sunan Kudus, Pajang akan saya gempur dengan perang, adik saya di Pajang akan saya bunuh supaya tidak menjadi penghalang.” Sunan Kudus menjawab, “Maksudmu itu saya kurang setuju sebab akan merusak negara serta banyak korban. Adapun maksud saya kakakmu di Pajang bisa mati, secara diam-diam saja, jangan diketahui banyak orang.” Arya Penangsang menjawab sangat setuju. Lalu mengutus abdi pengawal untuk menculik dan membunuh Sultan Pajang. Utusan segera berangkat. Datang di Pajang tengah malam, lalu masuk  ke dalam istana. Sultan Pajang sedang tidur berselimut kain kampuh, jarik/kain sarung. Para istrinya tidur di bawah. Utusan lalu menerjang dan menusuk dengan sekuat tenaga. Sultan Pajang tidak mempan (kebal), masih enak tidur saja. Kain yang digunakan untuk berselimut itupun tidak tembus. Para istri terkejut, bangun, menangis, dan menjerit. Sultan Pajang terkejut juga dan bangun. Kain selimut terlempar menerpa para utusan itu, mereka terjatuh terkapar di tanah, tidak ada yang dapat pergi.

Sultan Pajang segera bertanya kepada para istrinya, “Mengapa kalian menangis menjerit?” Para istri menjawab, “Paduka saya kira sudah meninggal, sebab ditikam oleh pencuri.” Sultan lalu mengambil lampu mendatangi tempat pencuri. Empat pencuri itu masih terkapar di tanah, tak ada yang mampu bergerak. Sultan lalu bertanya, “Saudara itu pencuri darimana, dan siapa yang menyuruh kalian?” Pencuri itu menjawab terus-terang. Sultan berkata lagi, “Sekarang kalian sudah saya ampuni, tetapi segeralah pulang ke Jipang. Laporkan kepada sesembahanmu, sebab kalau sampai kalian ketahuan oleh para peronda kalian pasti dibunuh.” Pencuri-pencuri lalu diberi hadiah harta dan pakaian. Begitu gembira hatinya, tidak menyangka jika diberi hidup. Mereka menyembah lalu berangkat. Sampai di Jipang lalu melaporkan bahwa usahanya gagal. Sultan begitu kuat dan sakti, jangan dianggap enteng.

 

Catatan: Tulisan ini bukanlah sumber sejarah yg terpercaya scr keilmuan, namun dapat menjadi bahan kajian ilmu sejarah. Tulisan ini adalah kutipan dari Cerita Babad, yaitu Babad Tanah Jawi.

Tulisan ini dikutip dari buku naskah terjemah ke dlm Bhs Indonesia, dr terjemah ke dlm Bhs Belanda karya W.I. Olthof di Belanda tahun 1941, yaitu: Babad Tanah Jawi: Mulai dari Nabi Adam sampai Tahun 1647 S terbitan Penerbit NARASI Yogyakarta cet. IV, th. 2008; halaman 62-64.


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Oh,, cerita jaka tingkir yang di dongengkan itu benar adanya ya??
hmmm…😀

Komentar oleh masyhury




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: