The Nurdayat Foundation


Jaka Tingkir 08: Bertemu di Pendapa Kudus lalu Berseberang Bengawan Sore

Setelah mendengar laporan utusannya, Arya Penangsang sangat sedih. Ia lalu memberitahu Sunan Kudus, bahwa utusannya yang membunuh Sultan Pajang tidak berhasil. “Jika diperkenankan, Sultan Pajang sebaiknya dipanggil saja ke Kudus, berdalih untuk diajak bicara soal ilmu. Jika sudah sampai di sini, mudah.” Sunan Kudus mengabulkan permintaan Arya Penangsang itu. Lalu utusan memanggil Sultan Pajang. Sultan Pajang setelah menerima panggilan Sunan Kudus, begitu gugup, dipanggil gurunya lalu segera bersiap. Ki Pamanahan dan Ki Panjawi segera memberi peringatan kepada Sultan Pajang, “Sultan menurut saya, Sultan dipanggil ke Kudus itu tidak akan berbicara tentang ilmu. Perkiraan saya, ada kaitannya dengan pencuri itu. Meskipun Sultan menghadap ke Kudus, jangan lengah. Perlu membawa prajurit siap perang.” Sultan Pajang setelah mendengar tutur-kata Ki Pamanahan dan Ki Panjawi begitu senang hatinya. Ia lalu memerintahkan untuk siap-siaga berangkat perang. Putra Pamanahan yang diangkat menjadi putra Sultan, diberi nama Raden Ngabehi sa-Lor-ing-Pasar, dijadikan pimpinan prajurit tamtama. Setelah siap, Sultan Pajang dan bala prajuritnya berangkat. Sultan Pajang berangkat mendahului bersama pasukan kuda. Pasukan berjalan kaki belakangan, dipimpin patih Pajang Tumenggung Mancanegara.

Sultan sudah sampai di Kudus berhenti di alun-alun. Sunan Kudus sudah diberitahu. Ia lalu memerintahkan Arya Penangsang supaya menemui Sultan Pajang di pendapa. Sambil menunggu kedatangannya, Arya Penangsang berencana sesudah Sultan datang dan melihat kerisnya, akan ditikam. Teman-temannya juga bersama turut mengerubut. Sultan Pajang diperintah oleh utusan Sunan Kudus duduk di tempat pertemuan bersama Arya Penangsang. Sultan Pajang sudah ada di tempat pertemuan. Ki Panjawi dan Ki Pamanahan serta Raden Ngabehi sa-Lor-ing-Pasar mendampingi di kanan-kiri agak ke belakang dan terus waspada.

Sultan Pajang duduk berhadap-hadapan dengan Arya Penangsang saling berpandang-pandangan. Arya Penangsang lalu bertanya kepada Sultan Pajang, “Adi, sudah lama saya tidak bertemu dengan kamu. Sekarang bersama-sama menghadap Sunan di sini, yang dipakai itu keris yang mana?” Sultan Pajang menjawab, “Keris saya yang lama.” Arya Penangsang berkata lagi, “Mana, saya ingin melihat kerismu?” Keris lalu ditarik. Ki Pamanahan segera menyenggol. Sultan Pajang tanggap. Keris sudah diserahkan ke Arya Penangsang. Sultan segera menarik serep keris, sambil berkata, “Kakang Arya Penangsang masih bagus keris saya yang ini, melebihi keris yang Kakang lihat-lihat itu.” Arya Penangsang tersenyum sambil berkata, “Yang saya lihat ini juga bagus.” Sultan Pajang menjawab, “Yang saya pegang ini bernama Kyai Crubuk. Meskipun sama-sama bagus masih ampuh Crubuk ini. Pengalaman yang sudah-sudah, tergores saja mesti tewas.”

Percakapan terhenti karena hadirnya Sunan Kudus. Melihat yang duduk saling menghunus keris segera mendekati sambil berkata, “Ada apa ini, saling menghunus keris. Apakah mau jual-beli keris ataukah ada yang mau tukar-menukar keris?” “Segera sarungkan ke dalam kerangkanya, tidak baik dilihat banyak orang.” Keris yang sudah disarungkan lalu diserahkan kepada Sultan Pajang. Arya Penangsang mengucap, “Pantas, belum saatnya saya akan membuat janda.” Sultan Pajang juga berucap, “Buaya belum saatnya saya akan memberi makan pada burung gagak.” Sunan Kudus berkata, “Sudahlah, jangan diperpanjang kata-kata itu. Rukunlah kalian bersaudara. Sekarang kembalilah ke tempat peristirahatanmu masing-masing. Kelak waktu bupati sudah lengkap kalian akan saya panggil.” Sultan Pajang serta Arya Penangsang lalu kembali ke tempat peristirahatannya masing-masing. Arya Penangsang ke pesanggrahannya di sebelah timur Bengawan Sore, Sultan Pajang di sebelah barat Bengawan Sore. Bala pasukan Pajang yang berjalan di belakang sudah datang.

(bersambung)

Catatan: Tulisan ini bukanlah sumber sejarah yg terpercaya scr keilmuan, namun dapat menjadi bahan kajian ilmu sejarah. Tulisan ini adalah kutipan dari Cerita Babad, yaitu Babad Tanah Jawi.

Tulisan ini dikutip dari buku naskah terjemah ke dlm Bhs Indonesia, dr terjemah ke dlm Bhs Belanda karya W.I. Olthof di Belanda tahun 1941, yaitu: Babad Tanah Jawi: Mulai dari Nabi Adam sampai Tahun 1647 S terbitan Penerbit NARASI Yogyakarta cet. IV, th. 2008; halaman 64-66.


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Seneng ketika Kudus disebut2…
Meski saya sudah nggak bermukim disana, tapi saya masih merasa sebagai Wong Kudus

Komentar oleh marsudiyanto




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: