The Nurdayat Foundation


Jaka Tingkir 09: Menengok Ratu Kalinyamat

Di  waktu malam Sultan Pajang berkumpul dengan Ki Pamanahan serta Ki Panjawi. Ki Pamanahan melapor, “Saya mendengar kabar, sepeninggal Sunan Prawata dan Kalinyamat, Nyi Mas Kalinyamat sangat menderita bertapa di Gunung Danaraja serta bertelanjang. Katanya tidak akan berkain jika Arya Penangsang belum meninggal. Jika Sultan berkenan mari kita menengok.” Sultan Pajang menurut ajakan Ki Pamanahan lalu berangkat ke Danaraja di waktu malam. Dalam rombongan itu yang ikut Ki Pemanahan, Ki Panjawi dan Ngabehi Lor-ing-Pasar. Kedatangannya terhenti di regol. Sudah diberitahukan kepada Ratu Kalinyamat, “Segera, silakan. Tetapi beritahu dulu aku tidak bisa bertatap-muka. Mohonlah agar duduk di luar kerobongan saja.” Abdi yang diperintah tadi segera mempersilakan Sultan Pajang. Mereka masuk, duduk di luar kerobongan. Ratu Kalinyamat lembut berbicara, “Sultan, apa yang menjadi kehendakmu, menengok aku di sini?” Sultan menjawab, “Saya ke sini karena mendengar berita bahwa Mbakyu meninggalkan kota, bertapa di Gunung Danaraja ini serta tidak berkenan berkain. Itu yang menjadi keprihatinan. Kematian kakak Kalinyamat sudah kehendak Allah. Jika berkenan tinggalkan kesedihan itu.” Ratu Kalinyamat menjawab, “Sungguh aku berterima kasih kepadamu, atas nasihat-nasihatmu kepadaku, tetapi ucapanku sudah terlanjur. Saya tidak akan memakai kain jika Arya Jipang belum mati. Meskipun saya sampai mati, tetap aku jalani. Kehadiranmu ke sini membuat saya senang. Berhubung aku seorang perempuan siapa yang saya mintai pertolongan menghilangkan penderitaanku selain kamu, sebab aku sudah tidak punya saudara lagi. Jika kamu dapat membunuh Arya Penangsang maka daerah Kalinyamat dan Prawata serta seluruh harta kekayaanku, aku serahkan padamu dan aku akan mengabdi padamu.” Sultan Pajang menjawab, “Mbakyu, saya takut melawan Arya Jipang sebab ia sangat kuat dan sakti.” Ratu Kalinyamat berkata, “Sultan, siapa yang saya tangisi selain kamu; jadi kunjunganmu ke sini tak ada artinya.” Ki Pamanahan berkata bisik-bisik kepada Sultan Pajang, “Menurut saya dipikir-pikir dulu. Sultan tunda dulu. Malam ini kita berunding, besok pagi kita kembali ke sini lagi.” Sultan Pajang menurut, lalu berkata, “Saya pikir-pikir selama semalam ini.”  Ratu Kalinyamat berkata, “baikl;ah besok kembalilah ke sini, saya tunggu.” Sultan Pajang lalu mohon pamit kembali ke pesanggrahan. Ki Pamanahan mengikuti, tetapi lalu kembali menemui Ratu Kalinyamat. Ia ditanya oleh Ratu Kalinyamat, “Ki Pamanahan ada perlu apa kembali ke sini?” KiPamanahan menjawab, “Mbakyu saya mau memberi saran atas permintaanmu kepada Sultan. Tadi saya melihat dua abdi perempuan yang cantik-cantik. Mohon besok mereka dirias. Jika Sultan besok ke sini, perintahkan mereka duduk di dekat kerobongan ini. Sultan Pajang itu jika melihat orang perempuan cantik lalu akan punya keberanian. Beliau mesti bersedia membunuh Arya Jipang, jika perempuan cantik itu diberikan. Cuma itu keperluan saya datang kemari.” Ratu Kalinyamat tersenyum sambil berkata, “Besar terimakasihku kepadamu, atas nasihatmu, akan saya turuti.” Ki Pamanahan lalu pamit kembali ke pesanggrahan.

Pagi harinya Sultan berunding dengan Ki Panjawi dan Ki Pamanahan. Berkatalah Sultan Pajang, “Bagaimana menurutmu permintaan pertolongan Mbakyu Kalinyamat?” Ki Pamanahan menjawab, “Menurut pendapat saya sebaiknya disanggupi sebab yang berkewajiban menolong hanyalah Sultan. Saya yakin tak akan kekurangan akal. Para abdi dan semua bupati bisa ditanya siapa yang dapat membunuh Arya Jipang. Berilah janji hadiah berupa tanah dan harta kekayaan. Tak mungkin tak ada yang bersedia.” Setelah Sultan mendengar nasihat Ki Pamanahan, begitu lega hatinya. Lalu berkata, “Kakak nanti malam saya akan kembali. Kasihan Nyi Kalinyamat, supaya segera sembuh susahnya.”

Setelah waktu malam mereka berangkat ke Gunung Danaraja. Setibanya di situ Sultan Pajang terkejut melihat dua orang perempuan cantik, duduk di kanan-kiri kerobongan. Sultan sangat tertarik hatinya. Lalu menoleh bertanya kepada Ki Pamanahan, “Ki Pamanahan, kedua orang cantik itu istrinya siapa? Cantik betul, saya belum pernah menjumpainya.” Ki Pamanahan menjawab, “Dugaan saya mungkin selkir almarhum Sunan Prawata.” Sultan berkata lagi, “Andaikata saya minta, Nyi Ratu Kalinyamat kira-kira memperbolehkan apa tidak?” Ki Pamanahan menjawab, “Nyi Ratu dulu pernah berkata, apalagi seorang perempuan, yang lain pun akan dikabulkan, jika Sultan dapat memenuhi permintaannya.” Ratu lalu memanggil Sultan Pajang, “Bagaimana Sultan kehadiranmu di sini apakah kiranya sudah menemukan jalan atas permintaanku kemarin?” Sultan Pajang menjawab, “Ratu Kalinyamat tidak usah khawatir, senang-senang sajalah! Saya sanggup membunuh Arya Penangsang, tetapi dengan syarat kedua perempuan cantik di dekat kerobongan itu saya minta.” Ratu Kalinyamat berkata, “Sultan, jangankan seorang perempuan, Negeri Kalinyamat dan Prawata, seluruh harta kekayaan semua akan aku serahkan, asal Sultan memenuhi permintaanku.” Kedua perempuan itu lalu diberikan, diperintahkan duduk di depan Sultan. Majulah keduanya dan duduk dengan kepala menunduk. Sebenarnya kedua perempuan itu sudah punya suami, pengawal di Kadipaten Prawata. Sultan Pajang, setelah menerima kedua perempuan itu berkata,  “Nyi Ratu jangan khawatir, Arya Jipang pasti mati di tangan saya.” Ratu Kalinyamat menjawab,  “Iya, Sultan. Cuma Sultan yang menjadi andalanku.”

Setelah mohon pamit berangkatlah Sultan kembali ke pesanggrahannya dengan membawa kedua perempuan itu. Suami kedua perempuan tadi, waktu malam berusaha membunuh Sultan Pajang dengan mengajak ketiga temannya. Saat Sultan sedang tidur, keempat orang tadi lalu menikam Sultan, tetapi tidak mempan. Sultan terbangun, keempat orang tadi mohon ampun dan bertobat. Sultan mengampuni mereka dan mengizinkan pulang. Suami perempuan itu akhirnya merelakan istrinya.

(bersambung)

Catatan: Tulisan ini bukanlah sumber sejarah yg terpercaya scr keilmuan, namun dapat menjadi bahan kajian ilmu sejarah. Tulisan ini adalah kutipan dari Cerita Babad, yaitu Babad Tanah Jawi.

Tulisan ini dikutip dari buku naskah terjemah ke dlm Bhs Indonesia, dr terjemah ke dlm Bhs Belanda karya W.I. Olthof di Belanda tahun 1941, yaitu: Babad Tanah Jawi: Mulai dari Nabi Adam sampai Tahun 1647 S terbitan Penerbit NARASI Yogyakarta cet. IV, th. 2008; halaman 66-68.


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

dimana lanjutannya?

Komentar oleh yahya

Apa benar seorang ratu cantik putri sultan dan beragama islam dia bertapa ko’ telanjang?

Komentar oleh robin misbah




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: