The Nurdayat Foundation


Seri Menulis Cerpen (1): Batasan Cerpen
Senin, 2 Mei 2011, 5:48 pm
Filed under: Cerpen | Tag:

Hingga kini belum ada kesatuan pendapat mengenai definisi cerpen yang paling tepat dan bisa diterima semua orang. Akan tetapi, umumnya, para teoritikus sama menyetujui bahwa yang disebut cerpen bukan karena ia pendek saja. HB Jassin dalam tulisannya “Cerita Pendek, Lukisan dan Roman” mengatakan, cerpen ialah cerita yang pendek. Tentang pendek ini orang boleh berdebat dan bertengkar, tetapi cerita yang 100 halaman panjangnya sudah tentu tidak bisa disebut cerpen dan memang tidak ada cerpen yang demikian panjangnya. Cerita yang panjangnya 10 atau 20 halaman masih bisa disebut cerpen, tetapi ada juga cerpen yang panjangnya hanya satu halaman. Walaupun pada akhirnya HB Jassin mengatakan tidak semua cerita yang pendek itu dapat disebut cerpen. Karena, untuk dapat disebut cerpen, ia harus memenuhi kriteria tertentu, paling tidak, dalam komposisinya, cerpen harus punya tiga bagian: perkenalan, pertikaian, dan penyelesaian. Untuk menguatkan pendapatnya, HB Jassin memberi contoh cerpen “Tikus dan Manusia” karya Trisno Sumardjo yang memenuhi syarat cerpen dan “Di Tepi Kawah” karya Bakri Siregar, seorang pengarang dari Medan.

Dengan mengutip Nyoman Tusthi Eddy, Bambang Sadono SY (lihat Buku Pintar Seorang Penulis dalam tulisan “Proses Penciptaan Cerita Pendek”) mengatakan bahwa cerpen ialah (1) hanya melukiskan kejadian/peristiwa, (2) waktu berlangsung kejadian tak begitu lama, (3) tempat kejadian berkisar antara satu sampai tiga tempat, (4) jumlah pelaku paling banyak lima orang, dan (5) watak pelaku tak dilukiskan secara mendalam.

Pernyataan ini bukan definisi, tetapi pengertian. Seperti yang ditulis Mochtar Lubis dalam Teknik Mengarang, bahwa yang disebut cerpen adalah cerita yang selesai sekali baca, dua kali baca, atau tiga kali baca dengan jumlah perkataan berkisar 500-30.000 kata. Dengan penentuan jumlah perkataan ini belumlah menjamin cerita yang pendek itu dapat dikatakan cerpen.

Sebuah cerpen haruslah mengandung unsur-unsur: (1) interpretasi pengarang tentang konsepsinya mengenai penghidupan, baik secara langsung maupun tidak langsung, (2) harus menimbulkan suatu empasan dalam pikiran pembaca, (3) harus menimbulkan perasaan pada pembaca -merasa terbawa jalan cerita, cerpen pertama-tama menarik perasaan dan baru kemudian menarik pikiran, (4) mengandung perincian dan insiden-insiden yang dipilih dengan sengaja serta bisa menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran pembaca.

Dengan singkat dapat dikatakan, syarat sebuah cerpen ialah terdapat sebuah insiden yang menguasai jalan cerita, ada seorang pelaku utama, jalan ceritanya padat, dan harus tercipta satu efek atau kesan yang mendalam pada pembaca. Oleh karena itulah Jakob Sumardjo merumuskan (dalam Seluk Beluk Cerita Pendek, Mitra Kancana, 1980), cerpen harus berupa cerita atau atau narasi (bukan analisis argumentatif) yang fiktif (tidak benar-benar telah terjadi, tetapi bisa kapan saja dan di mana terjadi) serta relatif pendek. Cerita fiktif yang pendek berdasarkan realitas tersebut hanya mengandung satu kejadian untuk satu efek bagi pembaca.

Tidak semua cerita yang pendek dapat disebut cerpen. HB Jassin memberikan contoh cerpen, tetapi bukan cerpen, yaitu corat-coret Idrus di masa Jepang (lihat Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma) serta “Tamasya dengan Perahu Bugis” karya Zuber Usman. Untuk lebih menegaskan cerita yang pendek yang bagaimana yang dapat disebut cerpen, A. Bakar Hamid dalam tulisannya “Pengertian Cerpen” (lihat Panduan Menulis Cerpen, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1997) menjelaskan, ada empat dasar penentuan yang harus dipenuhi.

Pertama, dilihat dari kualitas kata-kata dan halaman yang digunakan untuk satu cerpen. Ukuran yang lebih longgar dikatakan, cerpen ialah yang bisa habis dibaca dalam sekali duduk atau habis dibaca sambil minum teh. Akan tetapi ukuran ini sangat labil dan A. Bakar Hamid lebih setuju ukuran dengan penentuan jumlah perkataan, sehingga yang disebut cerpen berkisar 500-20.000 perkataan.

Kedua,  dilihat dari plot-nya. Sebuah cerpen biasanya hanya punya satu plot dasar, tidak menggunakan plot samping atau anak plot, sehingga tidak terjadi degresi plot.

Ketiga,  dilihat dari perwatakannya. Pada cerpen tidak mungkin terdapat banyak watak. Biasanya, dalam cerpen hanya terdapat satu watak atau dua watak saja. Perkembangan watak sukar dilakukan, karena yang dilukiskan dan muncul dalam cerpen hanya salah satu fase saja dari kehidupan tokoh. Tak mungkin cerpen menceritakan dan melukiskan watak tokoh dari lahir hingga meninggal dunia. yang dilukiskan mungkin hanya saat si tokoh bersanding di lantai pelaminan, saat ia ditabrak mobil, atau ketika sedang berpidato di atas podium dalam suatu rapat raksasa menghadapi pemilu atau pilkada.

Keempat,  dilihat dari kesannya. Kesan sebuah cerpen haruslah satu. Hal ini disebabkan temanya tidak luas dan plotnya tidak bercabang-cabang. Dari kesan yang satu itulah pembaca mencari dan m,enemukan pesannya.

sumber: buku Korrie Layun Rampan Apresiasi Cerpen Indonesia Mutakhir; terbitan bukupop, Jakarta, 2009,  hal. 1-3


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Jadi semua cerpen tidak bisa di bilang cerpen kalo tidak memenuhi kriteria atas ya? thank fernando

Komentar oleh fernando

Bagus nih.
Sekedar usul, akan lebih membantu jika ada contohnya. Misalnya contoh cerpen yang sesuai dengan keempat syarat itu, termasuk yang gak sesuai juga.

Thanks.

Komentar oleh Mas Kur




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: