The Nurdayat Foundation


Jaka Tingkir 10: Arya Penangsang Disayembarakan
Rabu, 4 Mei 2011, 3:20 pm
Filed under: Sejarah | Tag: , , ,

Di pagi harinya Sultan Pajang memerintahkan kepada abdinya untuk mengumumkan siapa yang berani dan dapat membunuh Arya Penangsang, Sultan akan mengganjarnya negeri di Pati dan di Mataram. Tetapi para bupati dan para menteri tidak ada yang bersedia, sebab semua takut terhadap Arya Penangsang.

Sultan lalu mengundang setiap orang di kota maupun desa manapun. Tukang ngarit jika dapat membunuh Arya Penangsang pasti akan diganjar Negeri Pati dan Mataram.

Berkumpullah Ki Panjawi dan Ki Pamanahan. Juru Martani bertanya ada kabar apa. Dijawab Ki Pamanahan, “Tadi Sang Prabu mengumumkan sayembara. Siapapun yang dapat membunuh Arya Penangsang, diganjar Negeri Pati dan Mataram.” “Tetapi menteri dan bupati takut semua, jadi belum ada orang yang bersedia.”

Ki Juru Mertani berkata lagi, “Menurut saya, sebaiknya Ki Pamanahan dan Ki Panjawi sanggupi saja sayembara itu, sebab sayang jika sampai Mataram dan Pati jatuh ke tangan orang lain.”

Ki Pamanahan menjawab, “Gampang hadiahnya, tetapi bagaimana membunuh Arya Penangsang?”

Ki Juru Martani berbicara lagi, “Ibarat adu ayam jago. Jika botoh-nya, pendukung utamanya bisa, pasti jagonya juga akan menang.” “Demikian juga di dalam peperangan, jika senopatinya pandai membuat siasat, tentu menang perangnya. Berhubung saya sudah tahu watak Arya Penangsang itu pemberang, mudah marah, rencana saya Arya Penangsang akan saya kirimi surat tantangan. Saya minta untuk datang sendiri tidak membawa bala-pasukan. Jika sudah datang akan saya kerubut bersama kerabat semua. Pasti tewas. Jika sudah setuju dengan rencana ini, besok pagi bersama-sama kita menghadap Sultan”

Ki Pamanahan dan Ki Panjawi setuju dengan pembicaraan itu.

Setelah pagi mereka berempat lalu menghadap Sultan. Para menteri, bupati sudah lengkap hadir. Sultan bertanya kepada mereka, “Siapa yang berani melawan dan membunuh Arya Penangsang?”

Para bupati tidak ada yang bersedia. Ki Pamanahan berkata, “Saya dan Panjawi bersedia bertanding perang dengan Arya Jipang. Sultan menyaksikan saja dari jauh. Yang menghadapi Arya Jipang saya sendiri dan para kerabat. Demikianlah waktu Sultan kelihatan datang, Arya Penangsang pasti hanya mengejar Sultan, tidak peduli dengan yang lainnya.”

Sultan Pajang begitu senang setelah mendengarnya. Katanya, “Syukurlah kalau demikian, bagaimana siasatnya?”

Ki Pamanahan berkata, “Besok pagi bala pasukan Pajang supaya siap senjata, tetapi di pasanggrahan saja. Saya dan kerabat yang akan maju perang.”

Sultan menuruti perkataan Ki Pamanahan. …

(bersambung)

Catatan: Tulisan ini bukanlah sumber sejarah yg terpercaya scr keilmuan, namun dapat menjadi bahan kajian ilmu sejarah. Tulisan ini adalah kutipan dari Cerita Babad, yaitu Babad Tanah Jawi.

Tulisan ini dikutip dari buku naskah terjemah ke dlm Bhs Indonesia, dr terjemah ke dlm Bhs Belanda karya W.I. Olthof di Belanda tahun 1941, yaitu: Babad Tanah Jawi: Mulai dari Nabi Adam sampai Tahun 1647 S terbitan Penerbit NARASI Yogyakarta cet. IV, th. 2008; halaman 68-70.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: