The Nurdayat Foundation


Jaka Tingkir 11: Pekathik Arya Penangsang Diperung

Setelah pagi hari Ki Pamanahan, Ki Panjawi, Juru Martani, dan Ngabehi Lor-ing-Pasar beserta kerabatnya yang berjumlah sekitar dua ratus orang berangkat ke sebelah barat bengawan dengan sangat hati-hati. Ki Pamanahan, Ki Panjawi dan Ki Juru Martani lalu pergi tanpa pasukan. Mereka menuju padang rumput, mencari tukang rumput yang agak terpencil. Ia didekati dan ditanya oleh Ki Pamanahan, “Kamu tukang rumput dari mana?” Yang ditanya menjawab, “Saya gamel (tukang memelihara kuda) Adipati Jipang. Saya yang mencarikan rumput untuk kuda milik Arya Jipang yang bernama Gagak Rimang.” Mendengar jawaban demikian, gamel Arya Penangsang segera ditubruk oleh Ki Panjawi. Orang tadi tak dapat berkutik. Ki Pamanahan berkata serta tersenyum, “Saudara, harap maklum telingamu saya minta sebelah saja, ya.”

Pekathik (tukang rumput) menjawab, “Ah, kalau seperti ini bukan berkelahi, telinga mau kamu minta. Lebih baik ambil sajalah keranjang dan sabit saya. Pasti saya berikan.”

Ki Pamanahan bicara lagi, ” Jika tidak boleh saya minta, akan saya beli. Berapa harganya?”

Ki Pekathik menjawab, “Meskipun engkau beli, tetap tidak boleh. Saya tidak ingin uang. Selama hidup, saya belum pernah dengar orang menjual telinganya.”

Kata Ki Pamanahan, “Pilih mana, atau kamu saya tikam?” Pekathik akhirnya menyerahkan telinganya. Ia lalu diberi uang lima belas reyal. Telinganya lalu dipotong sebelah. Di sebelah yang lain digantungi surat tantangan supaya disampaikan kepada Arya Jipang. Pekathik itu lalu lari pulang ke sebelah timur bengawan. Setibanya di pesanggrahan menerjang para abdi yang sedang menghadap Arya Jipang. Patih di Jipang yang bernama Ki Mataun, begitu terkejut melihat pekathik sang adipati berlumuran darah, telinganya di-perung (diputus) sebelah, serta digantungi surat, berlari, berniat menghadap Arya Penangsang. Tetapi dicegah oleh Ki Mataun, akan ditanyai. Pekathik terus berusaha keras harus masuk menghadap kepada sang Adipati.

Waktu itu Arya Penangsang sedang bersantap, terkejut mendengar ribut-ribut di luar, lalu memanggil Ki Mataun. Berkatalah Arya Penangsang, “Mataun, apa yang membuat ribut-ribut di luar itu?”

Ki Mataun menjawab, “Gusti, bersantaplah terlebih dahulu. Nanti saya beri tahu, sebab ada berita tidak baik.” Ki Mataun mengatakan demikian, sebab dia maklum, perangai Arya Penangsang yang pemarah dan pemberani. Setelah mengetahui berita itu, tentu tidak urung pasti lalu berangkat meninggalkan prajuritnya. Arya Jipang berkata, “Mataun ayo segera katakan padaku, jangan takut-takut.”

Ki Mataun tetap belum berani melapor, diam saja. Tiba-tiba pekathik tadi terlepas dari pegangan orang-orang, lari masuk menghadap sang Adipati. Arya Jipang lalu bertanya, “Itu orang mengapa badannya berlumuran darah?”

Sambil menyembah, Ki Mataun menjawab, “Ya, inilah yang menjadi geger di luar itu. Gamel sang Adipati, di-perung sebelah telinganya, serta dikalungi surat.”

Surat diambil lalu diterima oleh sang Adipati dengan tangan kiri. Tangan kanannya masih menggenggam nasi. Surat dibaca, bunyinya, “Ingatlah. Surat saya Kanjeng Sultan Pajang sampaikan kepada Arya Penangsang. Jika engkau nyata-nyata laki-laki serta berani, ayo perang tanding, jangan membawa bala, menyeberanglah sekarang ke sebelah barat sungai. Aku tunggu di situ.”

Arya Penangsang setelah membaca surat itu, begitu murka. Mukanya menjadi merah padam. Piring dibanting sambil mengepal nasi. Piring terbelah jadi dua. Arya Penangsang segera berdiri, mengenakan pakaian perang, serta memerintahkan untuk menyiapkan kudanya Gagak Rimang. Ia segera naik kudanya sambil membawa tombak bernama Dhandhang Mungsuh. Ki Mataun berusaha mencegah. Katanya, “Gusti, berhentilah sebentar, tunggulah para prajurit. Ketahuilah bahwa Paduka itu kena tipu-daya.” Arya Penangsang tidak menggubris omongan Ki Mataun, malahan semakin menjadi-jadi amarahnya, seperti dipanas-panasi. Arya Mataram, saudara mudanya segera mendekat sambil berkata, “Sang Adipati, sabarlah. Tunggulah para prajurit.”

Arya Penangsang berkata, “Sudah, diamlah jangan banyak bicara. Aku tidak takut. Sudah biasa orang perang itu dikerubut, dikeroyok banyak orang.”

Penangsang dengan bengis membentak, “Sudah enyahlah. Aku tidak mengajak kamu, sebab kamu saudaraku lain ibu. Aku tahu kamu pasti tidak pemberani seperti saya.”

Arya Penangsang mencambuk kudanya, melesat sendirian. Pulanglah Arya Mataram, sungguh sangat sakit hatinya. Ki Mataun mengejar, tetapi tidak mampu sebab sudah tua serta sakit asma.

Arya Penangsang akhirnya sampai di tepi Bengawan Sore.

Ada cerita menurut para orang tua dulu. Pantang bagi mereka yang saling berhadapan perang, berani mendahului menyeberang. Pasti akan kalah. …

(bersambung)

Catatan: Tulisan ini bukanlah sumber sejarah yg terpercaya scr keilmuan, namun dapat menjadi bahan kajian ilmu sejarah. Tulisan ini adalah kutipan dari Cerita Babad, yaitu Babad Tanah Jawi.

Tulisan ini dikutip dari buku naskah terjemah ke dlm Bhs Indonesia, dr terjemah ke dlm Bhs Belanda karya W.I. Olthof di Belanda tahun 1941, yaitu: Babad Tanah Jawi: Mulai dari Nabi Adam sampai Tahun 1647 S terbitan Penerbit NARASI Yogyakarta cet. IV, th. 2008; halaman 70-72.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: