The Nurdayat Foundation


Jaka Tingkir 12: Tewasnya Arya Penangsang

Ki Pamanahan, Ki Panjawi, Ki Juru Martani, Raden Ngabehi Lor-ing-Pasar beserta seluruh bala-tentaranya sudah siaga di sebelah barat Bengawan Caket (Sore). Ketika mereka melihat Arya Penangsang datang sendirian, mereka sangat senang. Arya Penangsang berteriak dengan keras, “Eh.. orang-orang Pajang, siapa yang memberi surat tantangan kepadaku? Segera menyeberanglah ke timur bengawan. Kerubutlah aku dengan seluruh prajuritmu. Sudah menjadi kesenanganku bila perang dikerubuti banyak orang.”

Warga orang-orang Sela menyahut, “Gustiku Sultan Pajang yang telah memberi surat itu kepadamu. Jika ternyata kamu memang pemberani, ayolah cepat ke barat, saya lawan satu lawan satu.”

Arya Penangsang mendengar tantangan semacam itu bukan main marahnya. Kudanya segera dibentak dan dicambuk, diterjunkan ke sungai. Kuda pun lalu berenang, punggungnya tidak basah. Kuda Arya Penangsang sudah sampai di bibir sungai. Ia lalu dihujani senjata dan dilempari oleh orang-orang Sela. Ada yang melempar tombak, tetapi tidak kena. Kuda Arya Penangsang lalu dicambuk,  melompat dari air naik ke darat, terjun di tengah-tengah barisan orang-orang Sela. Banyak orang roboh diterjang kuda. Kuda lalu menyepak dan menggigit orang-orang itu. Penunggang kuda pun mengamuk dengan tombaknya. Banyak orang yang luka dan tewas. Dengan marah Arya Penangsang berteriak, “Di mana Karebet yang sanggup menandingi perang dengan aku, tetapi tidak kelihatan?”

Arya Penangsang selama mengamuk selalu menguber serta mencari-cari Sultan Pajang.

Adipati Jipang itu akhirnya dikeroyok oleh banyak orang, dihujani tombak dari kanan-kiri, muka-belakang.

Arya Penangsang sudah luka di lambung kanannya. Ususnya terjulur keluar disampirkan pada ukiran kerisnya, serta semakin hebat amukannya. Sudah tidak berniat hidup lagi. Orang-orang dari Sela dan para tamtama semakin banyak yang luka maupun tewas. Ngabehi Lor-ing-Pasar segera menyambut kuda Arya Penangsang. Naik belo (anak kuda) yang dipotong bulu di tengkuknya sambil memegang tombak bernama Kyai Pleret. Ki Pamanahan, Ki Panjawi, Ki Juru Martani selalu mendukung di belakangnya. Setelah berhadap-hadapan dengan Arya Penangsang, Ki Juru Martani segera melepaskan kuda betina. Kuda Arya Penangsang begitu melihat kuda betina lalu melonjak-lonjak, kakinya digaruk-garukkan ke tanah, oleng menubruk tak terkendali. Kuda Ngabehi Lor-ing-Pasar lalu menendang hingga membuat Ngabehi hampir jatuh. Cepat-cepat ia merangkul leher kudanya. Setelah kuda berhenti, segeralah dia turun. Lalu kuda itu dituntun. Raden Ngabehi ber-prasapa, memberi amanat, “Kelak seluruh keturunanku jika berperang jangan naik kuda semacam itu, sebab akan membuat celaka.”

Kuda belo itu diserahkan kepada temannya. Raden Ngabehi maju dengan berjalan kaki sambil menyandang tombak Kyai Pleret. Sudah saling berhadap-hadapan dengan Arya Penangsang.

“Hai orang muda, siapa kamu? Siapa namamu, menyambut perangku? Lebih baik mundurlah. Sayang jika sampai mati. Panggillah si Pajang yang sanggup perang tanding denganku,” kata Arya Penangsang.

Tetapi kuda Arya Penangsang itu masih oleng dan terus menggaruk-garukkan kakinya. Arya Penangsang jadi tidak sempat menyiapkan tombaknya. Segera ditombaklah Arya Penangsang, tepat kena dadanya sampai tembus ke punggung. Kudanya juga lalu dibunuh beramai-ramai. Jenasah Arya Penangsang lalu diruwat oleh orang-orang Sela. Tombak Kyai Pleret cuwil sebesar biji beras pada ujungnya.

Tidak lama kemudian Ki Mataun datang mengamuk disambut oleh orang-orang Sela. Ia mati dikeroyok. Kepalanya dipenggal, lalu dipancangkan di pinggir bengawan. Waktu itu diberi sengkalan tahun 1471 S (th. 1549 M ? – Kang Nur) …

(bersambung)

Catatan: Tulisan ini bukanlah sumber sejarah yg terpercaya scr keilmuan, namun dapat menjadi bahan kajian ilmu sejarah. Tulisan ini adalah kutipan dari Cerita Babad, yaitu Babad Tanah Jawi.

Tulisan ini dikutip dari buku naskah terjemah ke dlm Bhs Indonesia, dr terjemah ke dlm Bhs Belanda karya W.I. Olthof di Belanda tahun 1941, yaitu: Babad Tanah Jawi: Mulai dari Nabi Adam sampai Tahun 1647 S terbitan Penerbit NARASI Yogyakarta cet. IV, th. 2008; halaman 72-73.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: