The Nurdayat Foundation


Seri Menulis Cerpen (2): Tema
Selasa, 10 Mei 2011, 1:32 pm
Filed under: Cerpen | Tag:

Sebuah cerpen yang baik biasanya bukanlah sekedar sebuah cerita. Sebuah cerpen yang baik selalu mengacu pada suatu hakikat hidup, sebuah dunia yang dirancang pengarang, atau suatu pengertian tentang kehidupan. Jakob Sumardjo mengatakan, tema adalah ide sebuah cerita. Pengarang, dalam menulis cerita, bukan sekedar bercerita, tetapi mengatakan sesuatu pada pembacanya. Sesuatu yang dikatakan itu bisa suatu masalah kehidupan, pandangan hidup tentang kehidupan, atau komentar terhadap kehidupan. Kejadian dan perbuatan tokoh cerita didasari ide pengarang.

Sebuah cerpen haruslah mengatakan sesuatu, yaitu pendapat pengarang tentang hidup dan kehidupan, sehingga pembaca dapat memetik manfaat dan memahami hidup dengan lebih baik. Namun tema tidak selalu berwujud ajaran moral atau tentang moral. Umumnya, tema hanya berwujud pengamatan pengarang terhadap kehidupan. Seringkali pengarang cerpen hanya mengemukakan suatu masalah kehidupan; lalu problem tersebut dibiarkan sebagai masalah pembaca, dan pembacalah yang berusaha memecahkannya.

Tema cinta, misalnya. Betapa besar dan suci cinta Saijah dan Adinda seperti yang dilukiskan Multatuli dalam Max Havelaar. Saat ia kembali dari Betawi, Saijah tak menemukan Adinda di bawah pohon ketapang dan ia hampir frustasi. Akan tetapi, saat ia pergi ke rumah Adinda, dalam biasan cahaya bulan di tengah reruntuhan, ia melihat sejumlah goresan pada lesung, yang menunjukkan jumlah bulan ia pergi. Jelas bahwa Adinda tetap mencintainya, dan hanya suatu sebab yang memisahkan mereka. Tema cinta di sini dapat menegaskan bahwa sebenarnya cinta itu suci. Kesucian cinta membawa manusia ke lantai pelaminan dan kemudian membangun mahligai rumah tangga dengan aman, tenteram, dan bahagia.

Biasanya, dalam cerpen yang baik, tema selalu tersamar. Pengarang mengungkapkan tema dalam keseluruhan elemen ceritanya, apakah dalam dialog, jalan pikiran atau perasaan, kejadian-kejadian, setting, dan sebagainya, untuk mempertegas tema. Seluruh jalinan cerita hanya punya satu tujuan, satu arti, dan tema-lah yang menyatukan kesemuanya. Tema yang baik adalah yang bersifat universal, tidak akan ditinggalkan oleh waktu, semua jaman dan masa bisa menerimanya, tidak bersifat momental atau temporer. Biasanya, sebuah cerpen dengan tema yang besar akan selalu dikenang karena persoalan yang dinyatakan dalam tema tersebut. Biasanya, tema yang besar akan berhasil jika disusun dalam plot yang memikat pula.

sumber: buku Korrie Layun Rampan Apresiasi Cerpen Indonesia Mutakhir; terbitan bukupop, Jakarta, 2009,  hal. 3-4.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: