The Nurdayat Foundation


Jaka Tingkir 13: Takluknya Pasukan Jipang
Jumat, 20 Mei 2011, 6:33 pm
Filed under: Sejarah | Tag: ,

Lalu pasukan Jipang datang lengkap dengan senjatanya, begitu besar jumlahnya. Mereka berhenti di pinggir bengawan. Pasukan mendengar kabar bahwa gusti sesembahan dan patihnya sudah gugur. Raden Ngabehi segera berkata sambil melambaikan tangannya dari pinggir bengawan, “He, orang Jipang ketahuilah bahwa Arya Penangsang dan Mataun sudah tewas. Lihat inilah kepalanya saya pancangkan di sini. Apakah yang akan kalian rebut? Lebih baik menyerahlah, tunduk padaku, sebab kalian itu cuma orang kecil. Tentu tidak tahu apa-apa. Kalau Ki Mataun layak bela-pati sebab ikut mukti pada atasannya.”

Semua orang Jipang, setelah demikian lalu bersedia takluk. Senjata-senjata dikemasi dan diikat. Mereka kemudian bersama-sama menyeberang ke barat, menghadap kepada Raden Ngabehi, terus dibawa ke pesanggrahan.

Pada suatu malam Ki Pamanahan, Ki Panjawi, Ki Juru Martani, Ngabehi Lor-ing-Pasar berunding tentang kematian Arya Penangsang. Berkatalah Ki Juru Martani dengan Ki Pamanahan, “Berhubung yang berhasil membunuh Arya Penangsang itu adalah Raden Ngabehi, apakah akan dilaporkan apa adanya kepada Kanjeng Sultan?”

Ki Pamanahan menjawab, “Memang demikianlah adanya, saya akan laporkan sesuai dengan apa yang terjadi.”

Ki Juru berkata lagi, “Menurut hati saya, sebaiknya Ki Pamanahan sajalah yang mengaku berhasil membunuh Arya Penangsang bersama Ki Panjawi. Sebab jika dilaporkan Ngabehi yang membunuh Arya Jipang, tidak urung cuma diganjar pakaian-pakaian yang bagus-bagus saja.  Tentu tidak akan diganjar kekuasaan negara, sebab Ngabehi masih anak-anak, tentu senang dengan pakaian yang mewah-mewah. Kedua, Ngabehi itu sudah diambil anak oleh Kanjeng Sultan, sehingga Sultan bebas memberi ganjaran menurut kemauannya saja. Jika yang berhasil membunuh kalian berdua, maka kalianlah yang berhak menerima janji Sultan itu, yaitu Pati dan Mataram.”

Ki Pamanahan dan Ki Panjawi setelah mendengar keterangan Ki Juru Martani itu sangat senang hatinya. Menurut mereka Ngabehi Lor-ing-Pasar juga menyetujui pembicaraan itu. Hasil kesepakatan itu lalu diumumkan kepada bala-tentaranya, bahwa yang berhasil membunuh Arya Penangsang adalah Ki Pamanahan dan Ki Panjawi.

Pagi harinya mereka berangkat ke Pajang serta membawa orang Jipang yang sudah takluk.

Sesampainya di hadapan Sultan, mereka lalu ditanya, “Kakak Pamanahan dan Panjawi, apakah kalian berhasil?”

Ki Pamanahan menjawab bahwa Penangsang sudah meninggal karena dikerubut berdua dengan Ki Panjawi. Mereka menyerahkan orang-orang Jipang yang sudah takluk. Kanjeng Sultan begitu senang. lalu bertanya kepada menteri dari Jipang, “Menteri Jipang, Arya Penangsang dulu punya saudara muda, bernama Arya Mataram. Di manakah sekarang?”

Menteri Jipang menjawab, “Gusti, ketika Arya Penangsang mau berangkat perang, Arya Penangsang mencegah kakaknya, agar menunggu pasukannya, tetapi malah dimarahi. Arya Mataram sangat sakit hatinya, lalu pergi. Saya tidak tahu kemana.”

(bersambung)

Catatan: Tulisan ini bukanlah sumber sejarah yg terpercaya scr keilmuan, namun dapat menjadi bahan kajian ilmu sejarah. Tulisan ini adalah kutipan dari Cerita Babad, yaitu Babad Tanah Jawi.

Tulisan ini dikutip dari buku naskah terjemah ke dlm Bhs Indonesia, dr terjemah ke dlm Bhs Belanda karya W.I. Olthof di Belanda tahun 1941, yaitu: Babad Tanah Jawi: Mulai dari Nabi Adam sampai Tahun 1647 S terbitan Penerbit NARASI Yogyakarta cet. IV, th. 2008; halaman 74-75.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: