The Nurdayat Foundation


Jaka Tingkir 14: Ganjaran untuk Pamanahan dan Panjawi
Senin, 23 Mei 2011, 3:13 pm
Filed under: Sejarah | Tag: , , ,

Berkatalah Sultan Pajang kepada Ki Pamanahan, “Kakang Pamanahan dan Panjawi berdua, saya ucapkan terima kasih. Tentang ganjaran Pati dan Mataram, supaya dibagi sendiri. Berhubung Ki Pamanahan lebih tua, saya persilakan memilih yang disenangi.”

Ki Pamanahan menjawab, “Berhubung saya lebih tua, pantaslah saya mengalah. Saya memilih yang masih berupa hutan saja, biarlah Panjawi yang lebih muda menerima Pati yang sudah menjadi kota serta sudah ramai banyak orangnya.”

Sultan berkata lagi, “Jika kedua-duanya sudah mau menerima, Kakak Panjawi segeralah berangkat ke Pati. Berangkat dari sini saja. Aturlah Pati dengan baik. Tentang Mataram besok jika saya sudah pulang ke Pajang akan saya serahkan kepada Kakak Pemanahan. Lagi pula pulangnya Kakak Pamanahan jangan bersama saya. Kakak harus ke Danaraja dahulu, memberitahukan kepada Mbakyu Kalinyamat bahwa Arya Penangsang sudah mati oleh Kakak Pamanahan dan Panjawi. Mbakyu supaya segera mengakhiri pertapaannya, segeralah pulang, jangan berlama-lama di sana.”

Ki Pamanahan siap melaksanakan perintah. Masing-masing lalu berpisah. Sultan pulang ke Pajang, Ki Panjawi ke Pati, Ki Pamanahan ke Danaraja. Perjalanan Ki Panjawi sudah tiba di Pati, lalu bergelar Kyai Ageng Pati. Ia berbahagia di situ. Waktu itu jumlah penduduk di Pati sepuluh ribu orang.

Ki Pamanahan juga sudah sampai di Gunung Danaraja. Lalu memberitahu kepada Kalinyamat bahwa Arya Penangsang sudah meninggal karena perang dengan dirinya bersama Ki Panjawi. Mendengar itu Ratu Kalinyamat sangat senang hatinya. Ia segera mengakhiri pertapaannya terus memakai kain, lalu berkata, “Syukur, jika si Arya Jipang sudah mati di tanganmu. Kepadamulah aku akan mengabdi. Terimalah wilayah Kalinyamat dan Prawata.”

Ki Pamanahan menjawab, “Mbakyu saya sudah diganjar Mataram dan Ki Panjawi di Pati. Tentang Prawata dan Kalinyamat serahkanlah ke Kanjeng Sultan saja.”

Ratu Kalinyamat berkata lagi, “Kalau begitu, semua harta kekayaanku terimalah. Gunakan biaya untuk membangun Mataram.”

“Harta kekayaan juga saya tolak,” jawabnya. Serahkanlah saja semua kepada Kanjeng Sultan. Jika diperkenankan yang berupa pusaka saja, yang kiranya boleh saya minta dari Mbakyu Ratu.”

Ratu Kalinyamat mengabulkan, menyerahkannya seraya berkata, “Ini, terimalah. Pusakaku hanya berupa dua cincin, yang satu mirah delima namanya Menjangan Bang; yang lain berupa intan bernama Si Uluk.” “Cuma pesanku, berhati-hatilah menyimpan pusaka itu. Sultan jangan sampai tahu. Jika sampai tahu akan membuat kamu salah besar. Kecuali itu, terimalah semua perempuan bekas selir dari almarhum Kalinyamat dan Prawata, yang tua-tua tinggalkanlah untuk merawat aku.”

Ki Pamanahan menerimanya, lalu mohon pamit serta membawa perempuan-perempuan dan harta kekayaan. Dalam perjalanannya ia singgah ke Sela bertanya kepada para kerabatnya untuk diajak tinggal di Mataram. Mereka yang sayang kepada Ki Ageng Pamanahan bersedia ikut, jumlahnya seratus lima puluh orang.

Ki Pamanahan sudah berangkat dari Sela. Sesampainya di Pajang lalu menyerahkan harta kekayaan dan para perempuan dari Ratu Kalinyamat itu. Sultan Pajang berkata, “Kakang Pamanahan, saya sangat berterimakasih kepadamu. Ambillah semua harta-benda itu. Sebab persembahanmu kepadaku sudah banyak, yaitu kematian Arya Penangsang serta negaranya. Cuma wanita-wanita biarlah akan saya pilih. Jika ada yang saya senangi akan saya ambil.”

Ki Pamanahan begitu berterimakasih, maka bermacam perempuan itu dihadapkan kepada Sultan. Kanjeng Sultan lalu memilih, ternyata hanya satu yang terpilih, itupun masih kecil. Katanya, “Kakang Pamanahan, anak perempuan satu ini yang saya minta, tetapi saya titipkan padamu. Tolong dijaga baik-baik, kelak jika sudah dewasa saya ambil, agar diserahkan ke keraton.”

Ki Pamanahan bersedia. Sultan berkata lagi kepada Ki Pamanahan, “Kakang Pamanahan, pulang sajalah dulu. Kelak kalau saya keluar dalam pisowanan agung, tanah Mataram akan saya berikan padamu.” Ki Pamanahan melaksanakan perintahnya, lalu pulang.

(Tamat ut cerita dg fokus pd Jaka Tingkir/Adiwijaya)

(bersambung dg  Lanjutan-nya dg fokus kpd Mataram)

Catatan: Tulisan ini bukanlah sumber sejarah yg terpercaya scr keilmuan, namun dapat menjadi bahan kajian ilmu sejarah. Tulisan ini adalah kutipan dari Cerita Babad, yaitu Babad Tanah Jawi.

Tulisan ini dikutip dari buku naskah terjemah ke dlm Bhs Indonesia, dr terjemah ke dlm Bhs Belanda karya W.I. Olthof di Belanda tahun 1941, yaitu: Babad Tanah Jawi: Mulai dari Nabi Adam sampai Tahun 1647 S terbitan Penerbit NARASI Yogyakarta cet. IV, th. 2008; halaman 75-77.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: