The Nurdayat Foundation


Awal Permulaan Mataram 01: Mulai Membuka Mataram
Selasa, 24 Mei 2011, 12:48 pm
Filed under: Sejarah | Tag: ,

Sudah sekian waktu lamanya, Kanjeng Sultan keluar pada pisowanan, tetapi tak pernah berbicara tentang tanah Mataram. Ki Pamanahan sangat berharap segera menerima ganjaran bumi Mataram. Ki Juru Martani selalu memberi nasihat untuk bersabar, sebab tak ada adat raja berdusta dalam kata-katanya. Tetapi Pamanahan sudah malu di mata banyak orang, serta sangat sakit hatinya terhadap Kanjeng Sultan karena dibohongi.

Pada suatu hari Ki Pamanahan pergi dari negeri, tinggal di desa Kembang Lampir, bertapa di situ. Setelah beberapa waktu lamanya, Sunan Kalijaga datang di desa Kembang Lampir mengunjungi Ki Pamanahan. Ki Pamanahan segera bersujud pada kaki sang Ulama.  Ketika semua sudah duduk, Sunan berkata, “Mengapa engkau berada di sini, meninggalkan Sultan Pajang?” Ki Pamanahan menjawab, “Sunan, orang bijaksana! Sebelum saya mengatakan alasan mengapa saya tinggal di sini, pasti Sunan sudah tahu sebabnya.”

Sunan tersenyum lalu berkata, “Ya, saya sudah tahu maksud tujuanmu.  Jangan sedih. Ayo ikutlah aku, saya pertemukan dengan Sultan Pajang. Berhubung kalian berdua satu perguruan, saya wajib mendamaikan agar perdamaian tetap rukun, tidak ada yang berbeda pendapat.”

Sunan Kalijaga bersama Ki Pamanahan berangkat ke Pajang. Kehadiran Sunan bersama Ki Pamanahan yang tiba-tiba membuat Sultan agak terkejut. Dengan tergopoh-gopoh Sultan segera menyambut serta bersujud pada kaki Sunan Kalijaga. Setelah dipersilakan duduk, berkatalah Sunan, “Sultan mengapa engkau mengingkari janjimu pada Ki Pamanahan. Bukankah Sultan akan mengganjar tanah Mataram serta Pati kepada Ki Pamanahan dan Ki Panjawi?” “Kini Panjawi sudah menerima Pati, mengapa Mataram belum Sultan serahkan?”

Sultan Pajang berkata, “Karena tanah Mataram masih tandus, masih berupa hutan, penduduknya baru sedikit. Itulah sebabnya Mataram belum saya serahkan. Niat saya Kakang Pamanahan mau saya beri tempat lain yang sudah banyak penduduknya serta sudah ramai.”

Sunan sudah dapat menangkap risau hati Sultan, tetapi tidak mau membuka rahasianya, lalu berkata, “Mengapa akan diberi tanah lain? Bukankah sudah menjadi janjimu sendiri bahwa Pati dan Mataram itulah yang menjadi hadiah. Rencana Sultan, Pamanahan hendak diberi tanah lain, berarti Sultan dapat disebut raja pembohong. Sekarang, segeralah Sultan berikan kepada Pamanahan, supaya jangan ada yang marah, lestarikanlah persaudaraan kalian.”

Lama Sultan tidak bisa menjawab Sunan, lalu berdiam diri saja. Andaikata tidak takut kepada guru, pasti Mataram tidak jadi diberikan kepada Ki pamanahan. akhirnya perlahan ia berkata, “Adapun Mataram tidak saya serahkan kepada kakang Pamanahan, sebab saya dengar menurut ramalan Sunan Giri, bahwa di Mataram kelak akan ada raja besar seperti saya.”

Sunan berkata, “Jika hal itu yang membuat hati Sultan cemas, itu mudah saja. Ki Pamanahan dimintai janji setianya. saya yang menjadi saksi. Ayo, Pamanahan berjanjilah kepada Sultan, saya menyaksikan.”

Ki Pamanahan segera berjanji, “Sang Sunan, jadilah saksi pada diri saya, jika saya punya gagasan mau jadi raja di Mataram atau berniat menaklukkan Pajang, semoga diri saya sendiri tidak selamat. Kurang tahu anak-turun saya, itu tentu yang Maha Mengetahui hanyalah Allah.”

Sunan lalu memotong kata-kata Pamanahan, “Ya, sudah cukup prasetiamu itu, saya sudah menyaksikan.”

Akhirnya hati Sultan menjadi lega. Tetapi tidak tahu, bahwa semua itu hanya ungkapan kata kiasan. “Sekarang, Kakang Pamanahan, terimalah tanah Mataram, tetapi harap maklum masih berupa hutan.”

Ki Pamanahan menyambut penyerahan itu disertai dengan rasa terima kasih.

Berkatalah Sunan, “Pamanahan, segeralah berangkat ke Mataram beserta seluruh anak-istrimu, saya doakan semoga tulus abadi persaudaraan kalian. Selamat tinggal, saya mau pulang.”

Sunan sudah berangkat pulang, demikian pula Ki Pamanahan. saat itu Ki Pamanahan itu mempunyai tujuh anak, yaitu; Raden Ngabehi Lor-ing-Pasar, Raden Ambu, Raden Santri, Raden Tompe, Radeng Kedawung, yang perempuan menikah dengan Tumenggung Mayang di pajang,  satunya diperistri Arya Dhadhaptulis di Pajang. Kedua anak putrinya itu ikut suaminya, jadi tidak ikut ke Mataram.

Setelah selesai persiapannya, Ki Pamanahan menghadap Sultan Pajang untuk mohon pamit kepada Sultan dan seluruh kerabat serta sentana di Pajang. Sultan berpesan, “Iya, kakang. Selamat jalan, semoga selamat juga yang ditinggalkan.” Ki Juru Martani juga berjabat tangan dengan sang Raja dan kerabatnya. Ki Pamanahan serta keluarganya lalu bersembah sujud berganti-gantian. raden Ngabehi Lor-ing-Pasar berpelukan dengan putra sultan yang bernama Pangeran Benawa. Kedua-duanya saling terharu dan berlinang air matanya. Ki Pamanahan suami-istri beserta semua keluarga yang lain sudah berangkat dari Pajang berbaris-baris, berombongan serta berkelompok-kelompok. Perlengkapan dan peralatan rumah tangga tidak ketinggalan. Perjalanannya begitu lamban. Pada waktu sampai di dusun Taji, mereka duduk di bawah pohon beringin untuk beristirahat.

Terungkap dalam cerita bahwa Ki Ageng Karang Lo sudah mengetahui bahwa Ki Ageng Pamanahan boyong ke Mataram. Ki Ageng karang Lo menyiapkan jamuan berupa nasi pecel daging ayam, sayur menir. Ki Karang Lo dan istrinya sudah sampai di Taji lalu saling bersalaman dan mengharap kedatangan Ki Pamanahan, “Saya menyiapkan hidangan jamuan nasi pecel, ayam, dan sayur menir, semoga dapat menjadi pengobat lelah.”

Ki Pamanahan menjawab, “Oh, ya, terima kasihg Ki sanak.” lalu makan bersama seluruh keluarganya sampai kenyang.

Selesai makan Ki Pamanahan berkata, “Terima kasih Ki Sanak. Hidangannya enak sekali. Saya sungguh sangat berhutang budi pada Ki sanak. semoga kelak saya bisa membalas.”

Ki Karang Lo juga berterima kasih.

Perjalanan dilanjutkan. Ki Karang Lo berniat ikut mengantar sampai di Mataram. Sepanjang jalan, sangat berharap agar kelak dapat ikut menikmati kebahagaiaan. Waktu itu perjalanan sudah sampai di Kali Opak. Sunan Kalijaga sedang mandi di situ. Ki Pamanahan dan Ki Karang Lo bersama-sama mendekati. Ki Pamanahan menggosok kaki Sunan sebelah kanan, Ki Karanglo sebelah kiri. Sunan berkata kepada Pamanahan, “Ketahuilah, sesungguhnya keturunan Ki Karang Lo ini kelak akan mulia bersama keturunanmu, tetapi tidak berhak menyandang gelar raden atau mas dan tidak berwenang naik tandu. Cukup, lanjutkan perjalananmu.”

Ki Pamanahan dan Ki Karang Lo melanjutkan perjalanan mereka setelah sampai di Mataram, lalu mulai membangun perumahan di situ. Waktu itu diberi sengkalan tahun 1532 S (=th. 1610 M?)

Catatan: Tulisan ini bukanlah sumber sejarah yg terpercaya scr keilmuan, namun dapat menjadi bahan kajian ilmu sejarah. Tulisan ini adalah kutipan dari Cerita Babad, yaitu Babad Tanah Jawi.

Tulisan ini dikutip dari buku naskah terjemah ke dlm Bhs Indonesia, dr terjemah ke dlm Bhs Belanda karya W.I. Olthof di Belanda tahun 1941, yaitu: Babad Tanah Jawi: Mulai dari Nabi Adam sampai Tahun 1647 S terbitan Penerbit NARASI Yogyakarta cet. IV, th. 2008; halaman 77-81


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: