The Nurdayat Foundation


Awal Permulaan Mataram 02: Dawegan dari Ki Ageng Giring
Selasa, 7 Juni 2011, 3:21 pm
Filed under: Sejarah

Mataram tanahnya rata, banyak air, buah-buahan, pala gumantung, pala kapendhem, pala kesimpar, hasil buah yang bergantung, di dalam tanah, dan sejenis buah di atas tanah.

Segala tanaman bisa hidup subur. Segala macam binatang di air, dan di daratan juga banyak. Banyak sumber air yang sangat jernih. Orang berjualan juga banyak. Ada yang lalu membuat rumah di situ. Ki Pamanahan sudah ganti nama Ki Ageng Mataram, serta berbahagia beserta seluruh keluarga dan seluruh kerabatnya.

Ki Ageng sangat tinggi tirakatnya, deras doanya. Sebab ia tahu ramalan Sunan Giri, bahwa di Mataram kelak akan ada raja besar yang menguasai tanah Jawa seluruhnya. Dalam batin Ki Ageng Mataram berharap jika benar ramalan tadi, jangan sampai bukan dari keturunannya. Maka dari itu Ki Ageng Mataram tidak berhenti berziarah ke hutan dan gunung.

Kala itu Ki Ageng pergi tirakatan sendirian, berniat akan mengunjungi saudaranya di Gunungkidul bernama Ki Ageng Giring atau Ki Ageng Paderesan. Persaudaraannya dengan Ki Ageng Mataram sedemikian baik sudah seperti saudara kandung saja.

Menurut cerita Ki Ageng Giring itu pun gemar bertapa. Pekerjaannya menyadap kelapa untuk membuat gula jawa. Di waktu pagi Ki Giring memanjat pohon kelapa sadapan. Di dekatnya ada sebuah pohon kelapa yang belum pernah berbuah. Waktu Ki Ageng baru memasang bumbung di atas pohon kelapa, tiba-tiba terdengar suara. Asal suara tadi dari buah kelapa di pohon yang satu itu. Ujar suara itu, “Wahai Ki Ageng Giring, ketahuilah barangsiapa dapat minum air kelapa muda (dawegan) ini habis sekaligus, seluruh keturunannya akan menjadi raja besar menguasai seluruh tanah Jawa.”

Ki Giring setelah mendengar suara demikian, segera turun. Setelah meletakkan alat perlengkapan menyadap, segeralah ia naik pohon kelapa asal suara tadi. Setelah dipetik lalu dibawa turun. Ia sudah tidak memikir lagi sadapannya. Hanya dawegan itulah yang menjadi pusat perhatiannya, terus dibawa pulang. Sesampai di rumah, lalu ia kupas, tetapi tidak segera diminum sebab hari masih pagi. Ia pikir tentu tidak bisa habis sekaligus jika diminum waktu itu, sebab belum haus. Dawegan lalu disimpan di atas paga (rak bambu untuk meletakkan alat-alat masak di dapur). Sehari itu Ki Ageng Giring tidak mengurus pekerjaan merebus nira untuk membuat gula. Hanya memikirkan dawegan saja. Ia lalu pergi ke hutan untuk mencari kayu.

Waktu Ki Ageng Pamanahan tiba, Ki Giring belum pulang lalu bertanya kepada Nyai Giring, “Mbakyu, Kang Giring kemana kok tidak kelihatan?”

Nyai Giring menjawab, “Kakakmu Giring baru ke hutan mencari kayu bakar.”

Ki Ageng Mataram lalu masuk ke dapur, ingin minum air nira (legen). Setelah melihat di dapur sepi, tak ada legen, hanya ada sebuah dawegan, segera diambil oleh Ki Ageng Mataram dibawa masuk ke rumah. Duduk di balai-balai serta melubangi dawegan itu untuk diminum airnya, lalu berkata kepada Nyai Giring, “Mbakyu, mengapa Kang Giring tidak merebus nira? Saya ke dapur ingin minum. Mencari legen tidak ketemu..” Nyi Giring menyahut, “Ya cuma sehari ini lowong, kakakmu ingin istirahat.”

Betapa terkejutnya Nyi Giring begitu dawegan akan diminum oleh Ki Ageng Mataram. Ia segera mencegah, “Adi, dawegan itu jangan engkau minum. Pesan kakakmu sangat keras. Jika jadi engkau minum, pasti saya akan dipukuli.”

Ki  Ageng Mataram menyahut, “Mbakyu jangan khawatir, nanti Mbakyu bilang, akulah yang memaksa, sebab haus saya sudah tak tertahan lagi. Kebetulan ada dawegan di dapur, tak usah memanjat sendiri.”

Ki Ageng lalu meminum sampai habis seketika, tidak tersisa setetes pun. Begitu nikmat rasanya.

Tidak lama kemudian Ki Ageng Giring datang dengan mengangkat kayu bakar. Langsung ke dapur, kayu lalu diletakkan. Maksud Ki Ageng Giring segera akan minum dawegan tadi. setelah dilihat di tempatnya dawegan tidak ada, lalu masuk ke rumah menerima Ki Ageng Pamanahan, serta bertanya kepada istrinya, “Nyai, daweganku yang saya letakkan di atas paga di  mana?” Nyai Ageng menjawab, “Adi Pamanahan itu yang mengambil. Saya cegah, tidak bisa. Katanya ia begitu hausnya lalu diminum.” Lalu Ki Ageng Mataram segera menyambung, “Kakang, benar, sayalah yang minum dawegan itu. Saya haus sekali. Kakang marahi, saya menyerah.”

Suasana batin yang sudah tinggi dari Ki Giring, ia percaya akan takdir. Meskipun sangat menyesal mendengar pernyataan Ki Ageng Pamanahan, ia mampu menguasai dirinya. Ki Giring menyerah atas kuasa Allah bahwa Ki Ageng Pamanahan digariskan untuk menurunkan raja-raja yang akan menurunkan raja-raja yang akan berkuasa di tanah Jawa. Lama berdiam diri, Ki Ageng Giring lalu membuka tabir rahasia tentang suara gaib yang berasal dari dawegan itu. Ia punya permintaan kepada Ki Pamanahan, “Ki Ageng Mataram inilah permintaan saya. Berhubung dawegan sudah engkau minum sampai habis, rasa-rasanya tak mungkin bisa saya minta kembali. Hanya keturunan saya saja kelak dapat bergantian dengan keturunanmu. Turunanmu sekali, lalu diganti turunanku.”

Ki Ageng Mataram tidak memberikan jawaban. Permintaan Ki Giring diulang sampai keturunan keenam, Ki Ageng Mataram juga tetap tidak mengabulkan, akhirnya sampai ketujuh. Ki Ageng Mataram menjawab, “Adi(?) Giring, Allahu ‘alam, terserah kelak, kita semua tidak tahu.” Ki Ageng lalu pamit kembali ke Mataram.

 


3 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Ada sediikit kejanggalan sehingga saya ingin bertanya; Membaca artikel di atas, seolah penerimaan wahyu kraton setelah Mataram menjadi perkampungan ( dusun ), padahal wahyu kraton datang mestinya sebelum calon raja lahir. Sedangkan dalam tulisan di atas jelas bahwa Sutawijaya sudah lahir dengan kata lain tinggal menunggu Ki Ageng Pemanahan mangkat langsung digantikan olehnya ( Suta wijaya ) dan dilantik oleh Sultan Hadiwijaya ( raja Pajang )

Komentar oleh Tirta Nata

Menarik sekali membaca sejarah kerajaan Mataram ada unsur kodrat dan wiradat. Itulah sekenario jalan cerita yang di gariskan Tuhan, meskipun dengan pralampito suatu hal yang sepele kalau Tuhan menghendaki bisa menjadikan tanda takdir di masa depan.
Pada akhirnya keturunan Ki ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan juga menikah dan menjadikan gen keturunan keduanya menjadi Raja di tanah Jawa.

Komentar oleh CahyoWulong

SATRIA PININGI
SATRIO PININGIT..

ADALAH PENGETAHUAN PRINSIPAL (PRINCIPLE KNOWLEDGE) TENTANG: “AKAR KONDISI MANUSIA (THE ROOTS OF HUMAN CONDITION), YAITU PENGETAHUAN TENTANG: “HAKEKAT MANUSIA SEUTUhNYA” YANG ADALAH “KSATRIA SEJATI” (JAWA: KSATRIA), WAKIL (KHALIFAH) ALLAH DIATAS BUMI, YANG OLEH MANUSIA MODERN SEMENJAK ADAM DAN HAWA JATUH KEBUMI KARENA TERGODA OLEH IBLIS WALAUPUN ADA DIKEDALAMAM HATI SETIAP MANUSIA TETAPI “TERLUPAKAN/TERTUTUPI (JAWA: pININGIT)”

Allah, Tuhan Yang Maha Esa, berkehendak menjadikan manusia (dalam hal ini manusia modern atau homo sapiens) mahluk yang sudah sempurna kejadiannya dengan mengkaruniakan 3 karunia sekaligus: akal pikiran disimbolkan dengan otak, nafsu disimbolkan dengan perut dan cinta kasih disimbolkan dengan hati nurani sebagai wakil/khalifah Allah diatas bumi. kondisi ini sangat berbeda dengan malaikat/dewa yang hanya dikaruniai akal saja, atau iblis yang hanya dikaruniai nafsu saja

Sebagai wakil Tuhan di atas Bumi manusia harus mengatur, memimpin, menjaga, mengolah dan mengurus serta memakmurkan bumi karena segala seuatu diciptakan Tuhan yme bukan tanpa sebab, dengan kata lain manusia modern diciptakan untuk MENATA KELOLA DENGAN BAIK atau melakukan GOOD GOVERNANCE terhadap bumi ini, agar bisa dinikmati hasilnya untuk keperluan manusia itu sendiri. Dan manusia dilarang membuat kerusakan diatas bumi

MUNCULNYA KEJAHATAN

Dengan alasan bahwa manusia-manusia yang hidup sebelum Adam dan Hawa (manusia purba), sudah terbukti memiliki sifat atau bakat merusak, maka sebagian malaikat membangkang ketika diharuskan bersujud/menyembah adam yang telah dinobatkan sebagai “Wakil Allah diatas bumi”. Sebagian malaikat ini, yang merasa lebih dahulu mengabdi dengan baik kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, merasa lebih berhak menjadi “Wakil Tuhan YME diatas bumi”. Tetapi Allah Tuhan YME. Maha Tahu tentang apa yang telah yang telah diputuskan-Nya. Pembangkangan ini berakibat pada pengusiran sebagian malaikat tersebut dari wilayah “terang benderang yang illahiah” (untuk tubuh manusia, wilayah ini berada pada “kebersihan jiwa, keterang benderangan nurani”) menuju tempat persembunyian yang baru, Suatu wilayah “ketidak sempurnaan yang sangat mengerikan”karena sangat jauh dari pancaran cahaya illahi. (untuk tubuh manusia, wilayah ini berada pada “kegelapan pikiran”)

Malaikat yang terusir mengalami keterpisahan dari sumber illahinya. Sifat-sifat kebaikan dan sifat-sifat mulianya teradiasi, dalam arti pancaran kebaikan dan kemuliaannya menjadi semakin lemah ketika semakin jauh, dan disinilah muncul “misteri kejahatan”. Pancaran kebaikan dan kemuliaannya mulai ternodai pada analisa akhir, ia menjadi setan/luciferian/iblis/dajjal. Dan berkehendak “menjadikan diri” sebagai Tuhan.

Untuk mewujudkan kehendak “menjadikan dirinya” sebagai Tuhan, setan, lucifer, iblis, dajjal, melakukan banyak hal untuk mewujudkannya. Salah satunya adalah dengan cara ikut aktif menginspirasi dan mendorong, dan bahkan ikut mewujudkan sistem-sistem international bagi pembangunan kemanusiaan yang tidak hanya bersifat “in-human” (tidak manusiawi) abai ekologi (Lingkungan hidup) dan bahkan bersifat tidak adil.

IJIN MENGGANGGU MANUSIA

Sebagai balasan terhadap pengabdian mereka selama 6000 tahun sebelumnya, maka Allah, Tuhan Yang Maha Esa, memberi ijin kepada kepada setan/lucifer/iblis/dajjal, untuk menggoda/mengganggu manusia yang kurang beriman kepada-NYA, untuk dijadikan pengikutnya selama 6000 tahun pula sampai dengan akhir jaman edan. Dan kelak, ketika 6000 tahun itu telah berlalu,
setan/lucifer/dajjal/iblis tersebut akan dipenjarakan di pusat perut bumi.

Janji leluhur bangsa Indonesia untuk menegakan Kerajaan Tuhan diatas bumi kepada Allah, Tuhan YME setelah

terlebih dahulu ditegakan didalam hati masing-masing
Posted in Uncategorized | Leave a reply
SELAMAT DATANG DI BLOG mahesakariban.wordpress.com

Komentar oleh Wongsorejo




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: