The Nurdayat Foundation


Awal Permulaan Mataram 03: Ngabehi Loring Pasar Menikahi Gadis dari Kalinyamat
Senin, 27 Juni 2011, 4:08 pm
Filed under: Sejarah

Setelah sekian waktu lamanya, putra Ki Ageng Mataram yang bernama Ngabehi Loring Pasar mencintai gadis simpanan Sultan Pajang dari Kalinyamat yang dulu dititipkan kepada Ki Ageng Mataram. Perintah Sultan Pajang kelak jika gadis itu sudah akil-balig, supaya diserahkan ke Kanjeng Sultan. Sekarang sudah dewasa, tetapi lalu dicintai oleh putra Ki Ageng Mataram itu. Maka Ki Ageng sangat cemas, tidak urung akan kena marah besar dari Sultan Pajang.

Maka Ki Ageng Mataram berangkat ke Pajang untuk mengakui kesalahan. Raden Ngabehi Loring Pasar juga diajak. Sesampai di Pajang lalu bersalaman dengan Kanjeng Sultan, Ki Ageng Mataram melaporkan, “Kanjeng Sultan, kedatangan saya ini untuk menyerahkan mati-hidup Ngabehi Loring Pasar, sebab besar sekali dosanya kepada Raja.”

Sultan mendengar itu begitu terkejut, lalu berkata, “Kakang, si Ngabehi dosanya apa? Kenapa Kakang serahkan mati maupun hidupnya? Bukankah sudah saya ambil sebagai anak saya yang pertama. Kakang sudah tidak boleh ikut menguasai si Ngabehi.”

Kata Ki Ageng Mataram, “Ngabehi saya laporkan, sebab berani mendahului kehendak raja, saling jatuh cinta dengan anak perempuan yang dititipkan pada saya. Anak perempuan yang berasal dari Kalinyamat dulu. Itu karena kegagalan pengawasan saya.”

Kata Sultan, “Kakang, jika kesalahan Ngabehi cuma begitu saja, saya ampuni. Segera nikahkan saja, saya sudah rela. Tetapi pesan saya, anak perempuan itu, jika kelak sudah tidak dicintai jangan disia-siakan. Meskipun demikian Kakang juga saya sesalkan dalam mengawasi anak yang kurang berhati-hati. Sebenarnya jika anak sudah dewasa, segera kawinkan atau diberi selir, supaya jangan sampai melanggar peraturan.”

Ki Ageng Mataram begitu menyesal, merasa kena murka dalam batinnya. Setelah Kanjeng Sultan sudah selesai memberikan pesannya, Ki Ageng Mataram serta Raden Ngabehi lalu mohon pamit kembali ke Mataram. Sesampai di Mataram Raden Ngabehi lalu diresmikan hubungannya dengan gadis itu. Setelah berjalan sekian lama, mendapat seorang putra yang tampan rupanya. Ia diberi nama Raden Rangga. Ayah dan ibunya sangat sayang.

(bersambung)

Catatan: Tulisan ini bukanlah sumber sejarah yg terpercaya scr keilmuan, namun dapat menjadi bahan kajian ilmu sejarah. Tulisan ini adalah kutipan dari Cerita Babad, yaitu Babad Tanah Jawi.

Tulisan ini dikutip dari buku naskah terjemah ke dlm Bhs Indonesia, dr terjemah ke dlm Bhs Belanda karya W.I. Olthof di Belanda tahun 1941, yaitu: Babad Tanah Jawi: Mulai dari Nabi Adam sampai Tahun 1647 S terbitan Penerbit NARASI Yogyakarta cet. IV, th. 2008; halaman 84


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Sering perubahan zaman disebabkan seorang wanita kang.

Komentar oleh tengkuputeh

Raden Rangga….. putra kinasih dari Ayahnda-nya yaitu Raden Ngabehi Loring Pasar si pemilik Tombak Pusaka Kyai Plered yang dihadiahkan oleh Sultan Hadiwidjaja – Radja Padjang (sewaktu mudanya bernama Mas Karebet/Djoko Tingkir/Putut Karang Tunggal)setelah berhasil menyarangkan tombak tersebut ke lambung seorang figur sangan temperamental Haryo Penangsang di Bengawan Sore…

Raden Rangga bukan hanya karena mendapat bimbingan dari Ki Djuru Mertani (Ki Patih Mataram, kawan seperjuangan Kakeknya yaitu Ki Gede Pemanahan, namun memang sudah bawaan dari lahir bahwa Raden Rangga sudah mendapat karunia kesaktian yang luar biasa….alkisah, pada suatu saat karena kenakalannya Raden Rangga di strap/dihukum oleh Ki Djuru untuk menunggunya disebuah tempat, Raden Rangga karena kesal lama menunggu telah ‘melobangi’ batu-hitam yang jadi tempat duduknya hanya dengan jemari tangannya…..????

Kemudian pada saat sedang bermain dengan Glagah Putih (anak Ki Widura, kemanakan Agung Sedayu dan Panglima Untara dari Trah Sadewa) beberapa kali sempat menunjukkan kesaktiannya… antara lain hanya dengan ranting pohon bambu (carang-Bhs. Jawa) yang ditorehkan ke tanah jalanan bisa menimbulkan cahaya bak api yang sangat panas berwarna putih cerah bak kilat petir….

Raden Rangga, meninggal dalam usia yang masih sangat muda/remaja… (sekitar tahun 1800-an barangkali kejadiannya yach….?)

Wallahu’alam bissawab….

Komentar oleh Raden Bogie Dwi Alriyanto




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: