The Nurdayat Foundation


Awal Permulaan Mataram 06: Senopati Enggan Menghadap
Sabtu, 12 November 2011, 9:19 am
Filed under: Sejarah

Mataram semakin bertambah penduduknya dalam kehidupan yang serba mewah. Tempat itu semakin ramai pula.  Senopati sungguh mulia hidupnya. Ia lalu memerintah kepada penduduk untuk mencetak batu bata guna membentengi kota.

Kala itu sudah lebih satu tahun lamanya Senopati belum juga menghadap ke Pajang. Ki Juru Martani selalu menyuruh sowan. Tetapi dijawab kelak saja kalau Kanjeng Sultan sudah utusan memanggil baru akan menghadap.

Pada suatu ketika Sultan Pajang keluar sinewaka  duduk di atas tahta emas, berukirkan intan berlian. Di bawah tahta beralaskan permadani (babut) bertaburan bunga, dan bahunya nan semerbak mewangi. Para bupati, menteri, rangga, demang, sudah lengkap sowan semua. Kanjeng Sultan bersinar bak bulan purnama. Kanjeng Sultan berbicara penuh wibawa, “Anak-anakku semua, apa kiranya kalian mendengar kabar berita putraku Senopati? Sudah lewat satu tahun tidak sowan ke Pajang. Karena sudah mendengar ramalan Sunan Giri, jadi alasan tidak mau menghadap? Sekarang tanda-tanda ramalan itu hampir menjadi kenyataan. Ibarat bunga yang masih kuncup, sekaranglah saatnya mekar berkembang.”

Sultan Pajang sudah tersohor sebagai seorang raja adi-jaya, sakti mandraguna, serba lebih, bala prajuritnya tak terhingga, tidak silau menghadapi Mataram, tetapi sepertinya ada yang menahan kemauannya. Para bupati unjuk kata, “Kami juga sudah mendengar kabar bahwa Senopati berniat mengerek bendera merah melawan Raja. Sekarang sudah memerintahkan mencetak batu bata untuk membangun benteng.”

Sultan lalu mengutus Wuragil dan Ngabehi Wilamarta,

“Kalian berangkatlah ke Mataram berdua mengamati perilaku Senopati. Tanyakan apa maunya?”

Ki Wuragil dan Wilamarta menerima perintah, lalu berangkat dengan naik kuda. Perjalanan mereka sudah sampai di Mataram. Senopati tidak bisa ditemui di rumahnya, sedang bertandang ke Lipura dengan naik kuda. Kedua utusan menyusul ke sana. Sesampai di Lipura sudah melihat Senopati sedang berjaga dengan kudanya. Ki Wuragil mengajak Wilamarta, “Mari kita turun, lalu menyampaikan panggilan Kanjeng Sultan.”

Ki Wilamarta menjawab, “Jika engkau mendahului turun dari kuda, berarti tidak menghargai yang mengutus. Sebab utusan itu menyampaikan maksud utusannya, martabatnya seperti yang mengutus. Padahal yang harus menerima perintah masih di atas kuda, jadi engkau sama saja merendahkan Kanjeng Sultan, engkau dapat dikatakan utusan yang hina. Apalagi Senopati sudah tahu, bahwa ini adalah utusan Kanjeng Sultan. Dia memang unjuk sombong tidak mau turun.”

Ki Wuragil berbicara lagi, “Ah, demikian itu belum tentu. Menurut saya, jika kita mengatakan bahwa diutus oleh Kanjeng Sultan tentu Senopati segera turun.”

Kedua utusan tadi lalu bersama turun dari kudanya serta mendekati Senopati. Senopati segera bertanya dengan masih bertengger di atas kudanya, “Ki Wuragil dan Wilamarta, apakah kalian ini diutus oleh Sultan?”

Ki Wilamarta berkata kepada Ki Wuragil, “Nah, tidak salah dugaanku. Senopati diperintah untuk segera menghentikan kehidupan foya-foya, mengumbar hawa nafsu makan-minum, mabuk-mabukan, dan cukurlah rambutmu, serta segeralah sowan ke Pajang.”

Senopati menjawab, tetap masih duduk di atas punggung kuda, “Engkau lapor saja kepada Kanjeng Sultan, saya diperintah berhenti dari makan dan minum? Saya masih doyan. Saya disuruh potong rambut? Biarkan saja, rambut kan tumbuh sendiri, bagaimana harus membersihkan? Saya diperintah untuk sowan? Ya, mau saja, jika Sultan sudah sembuh dari kesukaannya mengganggu istri orang lain, sembuh dari kesukaan mengambil perawan dari abdinya. Begitu saja jawaban saya.”

Kedua utusan itu lalu pamit untuk kembali pulang. Sesudah sampai di Pajang, mereka memberikan laporan palsu, “Saya diutus untuk memanggil Senopati, dia juga bersedia, tetapi saya berdua disuruh pulang dahulu. Dia akan menyusul.”

Kanjeng juga lalu diam, tidak banyak bertanya lagi.

(bersambung)

Catatan: Tulisan ini bukanlah sumber sejarah yg terpercaya scr keilmuan, namun dapat menjadi bahan kajian ilmu sejarah. Tulisan ini adalah kutipan dari Cerita Babad, yaitu Babad Tanah Jawi.

Tulisan ini dikutip dari buku naskah terjemah ke dlm Bhs Indonesia, dr terjemah ke dlm Bhs Belanda karya W.I. Olthof di Belanda tahun 1941, yaitu: Babad Tanah Jawi: Mulai dari Nabi Adam sampai Tahun 1647 S terbitan Penerbit NARASI Yogyakarta cet. IV, th. 2008;


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: