The Nurdayat Foundation


Awal Permulaan Mataram 07: Kritik Ki Juru Martani
Jumat, 18 November 2011, 11:24 pm
Filed under: Sejarah

Inilah cerita di rumah Senopati. Saat itu ia sedang duduk berdua dengan Ki Juru Martani. Ki Juru berkata, “Senopati, bagaimana kehendakmu? Engkau dipanggil Kanjeng Sultan, Tidak mau datang sowan. Kanjeng Sultan pasti murka. Tidak urung, engkau akan bermusuhan dengan Kanjeng Sultan. Jika hal itu sampai terjadi apakah andalanmu? Balamu cuma sedikit.”

“Mungkin kamu berani beradu dengan bala dari Pajang, meskipun pasti akan tumpas. Apalagi Sultan Pajang itu sudah termasyhur, raja adijaya, disegani oleh para raja di lain negara. Dahulu pernah mau dibunuh di malam hari di waktu tidur, pembunuh menusukkan keris sekuat tenaga. Selimutnya saja tidak mempan. Engkau mestinya harus tahu, begitu kuatnya Sultan itu.”

“Apalagi jika engkau bermusuhan dengan Sultan apa yang engkau andalkan itu. Jika kamu memiliki kelebihan menyentuh air tidak basah, masuk ke dalam api tidak terbakar, atau adi-daya keteguhanmu; semua itu juga berkat ajarannya. Karena kamu diambil sebagai putranya semenjak kecil, juga karena begitu sayangnya padamu dianggap seperti putranya sendiri. Setelah dewasa kamu diajari banyak ilmu kesaktian dan kekuatan, lalu dimuliakan di Mataram. Untuk semua itu balasan apa yang akan engkau persembahkan kepada Kanjeng Sultan?”

“Jadi engkau mempunyai dosa dalam tiga perkara. Pertama, melawan gusti, kedua melawan bapa, ketiga melawan guru. Betapa gelak tawa banyak orang terhadap dirimu. Mereka yang benci padamu akan mencibir, “Senopati itu berani perang cuma dengan ayahnya, kalau dengan musuh lain ya takut.” Saya jadi sangat malu jika dilihat orang-orang Pajang, sebab dapat dikatakan sebagai orang yang tidak tahu kebajikan. Lebih baik bermusuhan dengan orang dari negara lain yang lebih besar dari Pajang, saya justru tidak takut.”

Sangat banyak kritik yang disampaikan Ki Juru kepadanya.

Setelah mendengar itu Senapati Ing Alaga menangis di dalam hatinya merasa sungguh bersalah, kemudian perlahan berkata, “Paman, bagaimana sebaiknya, berhubung saya terlanjur berkata tidak mau sowan ke hadapan Kanjeng Sultan. Supaya tidak membuat marah Kanjeng Sultan, tetapi saya tetap dapat tinggal di Mataram dan saya sungguh dapat menguasai orang tanah Jawa semua, sampai ke anak-cucu saya.”

Kata Ki Juru Martani, “Jika itu menjadi niatmu, bermohonlah kepada Allah secara khusyuk agar kelak jika Sultan sudah mangkat engkau dapat menggantikan tahtanya. Jangan sekali-kali punya pikiran melawan ayahmu Kanjeng Sultan. Apalagi di dalam batin mempunyailah niat membalas kebaikannya terhadapmu atas kemuliaan yang telah diberikan kepadamu, demikian pula atas pengangkatan dirimu menjadi putranya, serta segala macam kepandaian dan kelebihan yang dilimpahkan kepadamu. Kalau permohonanmu kepada Allah sungguh ikhlas dan mantap, yakinlah Allah akan memberkati. Kanjeng Sultan dalam hati tetap sayang padamu serta rela tahtanya kaugantikan.”

Senopati Ing Alaga begitu besar terimakasihnya kepada pamannya serta akan melaksanakan semua ajaran itu. Ki Juru Martani pulang ke rumahnya. Senopati semakin khusyuk dan tekun di dalam doa permohonan kepada Allah semoga terkabul.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: