The Nurdayat Foundation


Awal Permulaan Mataram 08: Menjamu Mantri Pajak Kedu-Bagelen dan Percobaan Ki Bocor
Sabtu, 19 November 2011, 12:53 pm
Filed under: Sejarah

Waktu itu mantri pajak di daerah Kedu dan Bagelen mau masuk sowan ke Sultan Pajang untuk menyerahkan upeti, melewati wilayah Mataram. Di sana mereka dihentikan oleh Senapati, disambut dan dielu-elukan secara terhormat dan diajak berpesta-pesta makan, minum-minuman keras, serta dianggap sebagai saudara atau orangtua sendiri. Para mantri pajak itu sangat senang. Para selir Senapati disuruh menghibur dengan tari-tarian, disuruh melayani, membedaki dan menyuntingkan bunga kepada para mantri tersebut. Para mantri semakin merasa berhutang budi kepada Senapati. Lalu mereka berjanji sewaktu-waktu Senapati mendapat musuh, para mantri siap untuk membantu sebagai balas budi atas kebaikan Senapati. Mereka siap mengorbankan jiwa raganya.

Setelah mendengar janji setia para mantri itu, begitu senang hati Senapati, dalam batinnya, “Sekarang saya memperoleh bantuan berkat doa permohonanku kepada Allah. Rasa-rasanya aku dapat menggeser kekuasaan Pajang.”

Para mantri pajak itu pun lalu diganjar pakaian yang mewah-mewah, semuanya dapat. Betapa senang hati mereka serta berterimakasih. Dengan bersemangat mereka berkata, “Keberangkatan saya dari Kedu dan Bagelen semula berniat menyerahkan bulu bekti ke Pajang, sekarang tak jadi. Semua persembahan upeti kami serahkan ke sini semua, sebab tidak hanya di Pajang, raja di Mataram pun juga raja.”

Demikian ungkapan mereka sambil bertepuk-tangan bersahut-sahutan. Kata Senapati, “Semua saudara-saudara para mantri, saya terima dengan senang hati janji setia kalian. Saya harap di lain waktu kalian sowan ke Pajang bersama saya. Jika Sultan marah, saya yang akan mencegah, sebab segala kehendak Sultan sudah ada di tanganku. Nah, kepada saudara-saudaraku semua, jika ada yang ingin mendapat gelar demang, rangga, ngabehi atau tumenggung, saya sudah diberi wewenang untuk memberikan gelar-gelar tersebut oleh Kanjeng Sultan.”

Para mantri setelah mendengar itu, semakin bergembira, mereka memuliakan Senapati. Mereka menari-nari sambil memamerkan kedigdayaannya. Ada yang menerbangkan tombak, lembing, batu-batu seberat satu dacin, lalu disambut dengan dada atau punggung. Semua tidak menimbulkan apa-apa sebab para mantri itu sakti dan kuat.

***

Alkisah ada seorang mantri yang bernama Ki Bocor yang sangat sedih hatinya melihat ulah teman-temannya itu. Dalam batinnya, “Bagaimana temanku ini, semua sudah lupa daratan kena bujuk-rayu dan tipu-daya oleh Senapati. Mereka mau mengangkatnya sebagai raja. Tidak dapat berpikir jernih bahwa Senapati itu orang kebanyakan yang berambisi merebut kerajaan Pajang. Saya tidak sudi dikuasai Senapati sebelum menguji kekuatannya. Saya kira dia tidak berurat kawat, bertulang besi, berkulit tembaga. Jika tidak mempan saya tusuk kerisku bertuah si Kebo Dhengen, baru saya menyerah.”

Senapati sendiri sudah tahu kalau Ki Bocor mau menandingi dirinya, nampak pada sikapnya yang tidak mau ikut bersenang-senang. Naluri Senapati mengatakan, “Si Bocor ini rupanya agak beda dengan para mantri yang lain. Tidak suka dengan pesta-pora, malah berniat menandingi aku. Menganggap aku ini seperti si cebol yang mau menggapai langit. Menghina sekali. Tetapi si Bocor memang benar. Jika kedigdayaanku tidak melebihi banyak orang, mana mungkin aku dapat menjadi raja menguasai tanah Jawa.”

Panembahan Senapati lalu pulang. Para mantri juga sudah kembali ke pesanggrahannya. Senapati lalu memerintah kepada prajuritnya yang menjaga pintu gerbang, jika Ki Bocor masuk ke pura (rumah) dibiarkan saja, jangan ada yang melarang. Setelah waktu malam, si Bocor sudah siaga berniat menculik Senapati. Kerisnya dicoba, mata keris diberi kapuk, lenyap. Ki Bocor segera menerjang, menikam, Senapati tidak bergeming, senjatanya tidak mempan. Ia bahkan tidak menoleh, enak-enak makan saja. Ujung keris Ki Bocor sampai tumpul. Bocor kelelahan, lalu jatuh ke tanah bersedekap, keris menancap ke tanah pula. Badannya lemas, Ki Bocor bersujud serta bertobat. Senapati menoleh seraya berkata, “Kakang Bocor, saya ampuni kesalahanmu; dan percayalah padaku.”

Ki Bocor lalu pulang.


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Heya i am for the first time here. I came across this board and
I find It really useful & it helped me out a lot. I hope to give something back and aid others like you aided me.

Komentar oleh best freeware dvd ripper

Not only do you need to consider the fact that a professional and
authentic mechanic is fully insured. Most of time, you can report the
Auto Mechanic 1045 to the BBB if it is possible to competent
to get a fair idea of the tools that are needed for your brakes to function properly.

Komentar oleh BMW transmission repair roswell




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: