The Nurdayat Foundation


Awal Permulaan Mataram 09: Dijatuhi Bintang di Lipura
Senin, 21 November 2011, 3:15 pm
Filed under: Sejarah

Kemudian pada waktu tengah malam, Senapati pergi dikawal lima orang menuju Lipura. Di situ ada batu besar halus, bagus warnanya. Senapati lalu tidur di atas batu itu.

Di tempat lain Ki Juru Martani meski sudah dini hari belum ingin tidur, lalu pergi ke pura Mataram. Ia berniat bertemu dengan Senapati. Setelah sampai di pintu gerbang bertanya kepada penjaga, “Penjaga, apakah Senapati masih terjaga?”

Jawab penjaga, “Kyai Juru, selesai pesta tadi siang; setelah matahari tenggelam, berganti terang bulan; Panembahan lalu pergi. Entah ke mana tujuannya.”

Setelah mendengar jawaban penjaga pintu gerbang, lalu tahu ke mana Senapati pergi, segera menyusul ke Lipura. Sampai di situ dijumpainya Senapati tidur di batu gegilang. Kyai Juru segera membangunkan, katanya, “Senapati, bangunlah. Katanya ingin jadi raja, kenapa tidur melulu?”

Lalu ada bintang jatuh dari langit, bercahaya sebesar buah kelapa dengan sabutnya, jatuh di atas ulu hati Senapati.

Kyai Juru begitu terkejut, segera membangunkan Senapati, “Senapati, bangunlah segera. Benda mencorong di atas ulu hatimu itu apa?” Senapati segera terjaga, melihat seraya bertanya, “Apa dan siapakah engkau ini, mencorong di atas tidurku. Selama hidupku belum pernah aku melihatnya.”

Bintang bercahaya lalu menjawab, “Ketahuilah aku ini bintang penjuru, memberitahu padamu, bahwa ketekunanmu mengheningkan hati, memohon perkenan Allah, sekarang sudah diterima Allah. Yang kau mohon dalam doa telah dikabulkan. Engkau akan menjadi raja, menguasai tanah Jawa, turun temurun ke anak-cucumu, menjadi raja di Mataram tanpa timbang, disegani oleh musuh, kaya emas, intan, berlian. Cicitmu kelak yang akan mengakhiri kekuasaan di Mataram. Waktu itu negara mulai retak. Sering ada gerhana bulan dan matahari. Bintang kemukus tiap malam kelihatan, gunung-gunung meletus, hujan batu dan abu. Itu tanda-tandanya negara akan rusak.”

Bintang tadi sesudah berbicara demikian lalu musnah. Senapati berkata dalam hati, “Sekarang, permohonan kepada Allah sudah terkabul. Niatku untuk menjadi raja menggantikan Sultan Pajang, turun temurun ke anak cucu, menjadi lampunya tanah Jawa. Semua orang Jawa jadi takluk kepadaku.”

Ki Juru tahu apa yang ada dalam batin Senapati, lalu berbicara, “Senapati, kamu jangan memastikan sesuatu yang belum tentu terjadi. Itu tidak benar. Jika kamu percaya kata-kata bintang itu, kamu keliru. Sebab suara itu adalah suara gaib, bisa salah, bisa benar, tidak bisa ditangkap lidahnya seperti manusia. Kelak jika kamu jadi berperang dengan orang Pajang, tentu bintang tadi tidak bisa engkau tagih, atau engkau mintai tolong. Tentu saja, dan kamu yang menghadapi semua sendiri. Jika menang kamu pasti menjadi raja di Mataram, tetapi kalau kalah akan menjadi tawanan.”

Senapati Ing Alaga setelah mendengar ucapan pamannya itu begitu menyesal. Seraya perlahan berkata, “Paman, bagaimana ini sebaiknya, saya selalu menurut. Saya ini kapal ibaratnya, Paman nahkodanya.” Kyai Juru Martani berkata, “Kalau menurut nasihatku, mari bersama memohon kepada Allah, segala yang sulit semoga dipermudah. Mari berbagi tugas. Kamu pergilah ke Laut Kidul, sementara aku akan naik ke Gunung Merapi untuk mengetahui kehendak Allah. Mari kita bersama-sama berangkat.”

Ki Juru Martani lalu berangkat ke Gunung Merapi. Senapati Ing Alaga pergi ke timur, lurus menuju Sungai Opak terjun ke sungai berenang seturut air.

Di situ ada ikan laut namanya olor. Dulu Senapati punya kesenangan pergi ke Sungai Samas untuk menjala, atau menggunakan alat menangkap ikan yang lain. Banyak alat perlengkapan menangkap ikan. Hasil tangkapan ikannya banyak pula. Ikan olor itu tertangkap oleh orang banyak. Besarnya tak terhingga, lalu dibawa ke darat diserahkan kepada Panembahan Senapati. Beliau sangat senang melihatnya. Olehnya ikan itu lalu dihias serba emas, diberi nama Tunggul Wulung. Lalu dilepas kembali ke dalam air. Ikan olor tadi merasa berhutang hidup kepada Senapati.

Tatkala itu ikan olor melihat bahwa Senapati menghanyutkan diri di sungai sampai di tepi laut. Ikan olor lalu mengapung menjemput Senapati supaya naik ke punggungnya. Tetapi Senapati menolak tawaran itu. Ia lalu naik ke darat, berdiri di pinggir samudra, serta berdoa kepada Allah.

Lalu datanglah prahara, angin bercampur hujan. Pohon-pohon roboh. Gelombang laut setinggi gunung. Suaranya mengerikan, airnya mendidih-panas seperti wedang. Banyak ikan yang tergelincir membentur batu karang, akhirnya mati di daratan. Itu akibat pengaruh kekuatan doa Panembahan Senapati kepada Allah.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: